Selasa, 11 Maret 2025

Mabes Polri dan Polda Sumut Ungkap Clandestine Laboratorium Ekstasi di Medan

Tumpal Manik - Kamis, 13 Juni 2024 20:57 WIB
489 view
Mabes Polri dan Polda Sumut Ungkap Clandestine Laboratorium Ekstasi di Medan
Foto:SNN/Tumpal Manik
BERI PENJELASAN: Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Mukti Juharsa menjelaskan temuan clandestine laboratorium pembuatan ekstasi di Jalan Kapten Jumhana Sukaramai Medan, Kamis (13/6/2024).
Medan (harianSIB.com)
Mabes Polri melalui Dittipidnarkoba Bareskrim Polri dan Polda Sumut berhasil mengungkap clandestine laboratorium (pabrik pembuatan narkotik) jenis ekstasi di Jalan Kapten Jumhana, Kelurahan Sukaramai II, Kecamatan Medan Area, Sumatera Utara, Selasa (11/6/2024).

Hal tersebut terungkap saat Dittipidnarkoba Bareskrim Polri dan Polda Sumut menggelar konfrensi pers ditemukannya pabrik ekstasi, Kamis (13/6/2024) sore di lokasi pembuatan ekstasi tersebut.

Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Mukti Juharsa mengatakan, pada 11 Juni 2024, Dittipidnarkoba Bareskrim Polri bekerjasama dengan Ditjen Bea Cukai Pusat, Kanwil Bea Cukai Bandara Soetta, Kanwil Bea dan Cukai Sumut, Ditresnarkoba Polda Sumut dan Satresnarkoba Polrestabes Medan berhasil mengungkap clandestine laboratorium narkotika jenis ekstasi dengan kandungan mephendrone jaringan Medan.

Baca Juga:

"Hasil dari joint operation tersebut, tim berhasil mengamankan 6 orang WNI, yakni 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan, sementara 2 lagi buron. Dan pemilik mephendrone laboratorium tersebut merupakan pasangan suami istri," ujarnya.

Para tersangka yaitu HK yang merupakan pembuat dan pemilik lab, DK, membantu membuat, SS alias D sebagai pemesan alat cetak dan pemasaran, S sebagai saksi, AP sebagai kurir pengambil paket ekstasi dan HD sebagai pemesan ekstasi. Sementara R dan B masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Baca Juga:

Lanjut Mukti, berdasarkan hasil labforensik bahwa ekstasi yang dibuat oleh pasangan suami istri tersebut mengandung mephedrone.

"Mephedrone merupakan narkotika jenis baru yang termasuk golongan I sesuai Permenkes RI No. 5 Tahun 2023 tentang narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi," ucapnya.

Menurut Mukti, saat pengungkapan ditemukan berbagai barang bukti bahan dan alat cetak ekstasi serta ekstasi jadi.

"Atas pengungkapan ini, ditemukan sebanyak 635 butir ekstasi, artinya kita telah berhasil menyelamatkan 635 jiwa jika diasumsikan per orang mengkonsumsi 1 butir ekstasi," jelasnya.

Disamping itu, lanjut Mukti ditemukan juga berbagai jenis prekusor kimia cair dan padat sejumlah 227,46 Kg yang dapat menghasilkan 314.190 butir ekstasi.

"Dari temuan bahan ini, kita menyelamat 314.190 jiwa," sebutnya sembari mengatakan menurut para pelaku, ekstasi dicetak berdasarkan pesanan dan mampu mencetak 600 butir per bulan.

Temuan clandestine laboratorium Medan merupakan pengembangan kasus di Sunter, Jakarta Utara pada 4 April 2024 dan kasus di Bali pada tanggal 2 Mei 2024.

"Hasil pengumpulan data introgasi dan analisa IT diketahui adanya pengiriman bahan-bahan kimia ke wilayah Medan sejak bulan Agustus 2023 hingga sekarang," tandas Mukti sambil mengatakan bahan dan peralatan untuk pembuatan ekstasi dipesan melalui market place dari China.

Sementara itu, Wakapolda Sumut Brigjen Pol Rony Samtana mengatakan hasil dari pembuatan ekstasi di Sukaramai tersebut dipasarkan ke diskotik yang ada di Medan, Pematang Siantar dan daerah lainnya di Sumatera Utara.

"Ekstasi yang dibuat dipasarkan ke tempat hiburan di Medan, Pematangsiantar dan daerah lain berdasarkan pesanan. Dan untuk jenis ekstasi ini disebut jenis Ferrari," katanya.

Pada kesempatan tersebut Ronny berpesan agar narkoba menjadi musuh bersama dan menjauhkan diri dari narkoba tersebut.

"Tindak pidana terjadi 65 % pelakunya mengkonsumsi narkotika, untuk itu jauhi narkoba dan jadikan musuh bersama," pungkasnya.

Selanjutnya, berdasarkan perbuatan tersangka maka dikenakan pasal 114 ayat 2 sub pasal 113 ayat 2 sub pasal 112 ayat 2 dan pasal 111 ayat 1, pasal 132 ayat 2 UU RI No. 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman mati. (**)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru