Selasa, 04 Februari 2025

Video Keluarga Pasien BPJS Marah-marah Viral, Direktur: Kejadian Ini Soal Rujukan

Anwar Lubis - Selasa, 04 Februari 2025 11:01 WIB
178 view
Video Keluarga Pasien BPJS Marah-marah Viral, Direktur: Kejadian Ini Soal Rujukan
Foto: Dok/tangkapan layar/Facebok
Seorang wanita terlihat kesal dan kecewa kepada petugas sekuriti RSUD Tarutung, Kabupaten Taput, lantaran permintaan keluarga pasien tidak dilayani petugas, baru-baru ini.
Taput(harianSIB.com)

Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah keluarga pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diduga marah-marah terhadap petugas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), viral di media sosial.

Video berdurasi 8 menit 42 detik yang dilihat SIB News Network (SNN), Selasa (4/2/2025), tampak seorang wanita terlihat kesal dan kecewa kepada petugas sekuriti rumah sakit pemerintah itu, lantaran permintaan keluarga pasien merasa tidak dilayani petugas dalam hal rujukan ke rumah sakit lain di Medan.

Baca Juga:

Dalam narasi yang beredar sesuai kejadian ini yang direkam dan diunggah melalui akun media sosial @sahat m aritonang, Minggu (2/2/2025), "Inilah Rumah Sakit Tarutung", juga anggota keluarga pasien yang dalam kondisi kritis membutuhkan layanan rumah sakit rujukan.

KETENTUAN RUJUKAN

Merespon viralnya video tersebut, Direktur RSUD Tarutung, dr Janri Aoyagie Nababan membenarkan kejadian dalam video tersebut terjadi pada Minggu (2/2/2025). Mantan Kepala Dinas Kesehatan itu menyebut kejadian itu persoalan rujukan pasien.

Baca Juga:

"Ini hanya persoalan rujukan pasien, di mana saat itu pasien bersama anggota keluarga datang berobat ke RSUD Tarutung dan ingin meminta rujukan ke rumah sakit lain di Medan," kata Janri saat di komfirmasi SNN, Selasa (4/2/2025).

Dikatakannya, berdasarkan diagnosa dokter, pasien harus dirujuk ke rumah sakit di Medan, yang mempunyai fasilitas dan dokter sesuai diagnosa penyakit pasien.

"Memang benar, anggota keluarga pasien meminta rujukan, tapi persoalan ini disebabkan kurang pahamnya keluarga pasien soal sistem rujukan BPJS. Sesuai aturan, rumah sakit mengirim ke rumah sakit lain melalui Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) online. Jadi tidak sesuka kita mengirim pasien," jelasnya.

Janri menuturkan, pihaknya sudah melaksanakan ketentuan rujukan berdasarkan SE Dirjen Yankes Nomor HK. 02.02/I/1161.2022 tentang Implementasi SISRUTE dan RSUD Tarutung sudah mencari beberapa rumah sakit sesuai dengan kebutuhan rujuk pasien.

Dari beberapa rumah sakit yang diajukan SISRUTE online yang langsung menerima pasien saat kejadian adalah RS Adam Malik Medan dan telah mendapatkan persetujuan dari rumah sakit tersebut.

Namun, saat pihak RSUD melakukan konfirmasi kepada keluarga pasien, mereka menolak dirujuk ke RS Adam Malik, sehingga keluarga pasien wajib menandatangani penolakan rujukan.

Kemudian, lanjutnya, keluarga pasien meminta agar pasien dirujuk ke RS Elisabeth Medan atau RS Murni Teguh.

"RSUD Tarutung juga tidak menolak permintaan keluarga pasien. Bahkan kami melalui SISRUTE online mengisi semua format isian sesuai prosedur dan diagnosa penyakit yang telah disampaikan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP)," ujarnya.

Beberapa saat kemudian, RSUD Tarutung menerima jawaban konfirmasi dari RS Elisabeth yang menyatakan kondisi pasien tidak merupakan emergency untuk rujukan, sehingga disarankan untuk rawat jalan.

Selanjutnya, perawat RSUD Tarutung menyampaikan jawaban RS Elisabeth tersebut kepada keluarga pasien, namun tidak menerimanya. Keluarga pasien menyatakan format isian yang disampaikan RSUD Tarutung tidak lengkap.


Setelah diadakan komunikasi antara keluarga pasien dengan tim RSUD Tarutung dan menyampaikan format isian yang telah diajukan, salah satu keluarga pasien yang juga berlatar belakang petugas kesehatan tidak membantah bahwa format isian telah ada kriteria emergency rujukan.

Pihak RSUD Tarutung menyampaikan, apapun jawaban dari RS Elisabeth tidak dapat diganggu gugat, bahkan diagnosa pasien secara mendetail juga sesuai saran dari RS Elisabeth tidak dapat dipenuhi. Sebab, diagnosa dokter sudah dibuat sebelumnya serta tidak bisa sesuai kemauan keluarga pasien.

Meski demikian, pihak RSUD tetap melakukan prosedur melalui SISRUTE online dan mengisi format isian tujuan rujukan ke RS Murni Teguh, namun rumah sakit tersebut menjawab tidak ada kamar kosong, tetapi jika naik kelas maka rumah sakit memiliki kamar kosong.

"Informasi sudah disampaikan semua kepada keluarga pasien, namun keluarganya mengaku tidak mempunyai uang kalau naik kelas," ungkapnya seraya menyebut RSUD Tarutung telah melakukan sebagai pelayanan kesehatan kepada pasien. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru