Senin, 07 April 2025
DPRD SU Dibekali Penguatan Pancasila dari BPIP Lewat Seminar Wawasan Kebangsaan

Pancasila Pasca Reformasi Dianggap Jadi Barang Usang dan Tidak Dipedulikan

Redaksi - Jumat, 14 Oktober 2022 11:39 WIB
304 view
Pancasila Pasca Reformasi Dianggap Jadi Barang Usang dan Tidak Dipedulikan
(Foto: SIB/Firdaus Peranginangin)
FOTO BERSAMA: Pimpinan dan anggota DPRD Sumut foto bersama dengan pemateri,  Muhammad Sabri selaku Direktur Pengkajian Kebijakan PIP, Aris Heru Utomo selaku Direktur Pengkajian  Materi  PIP, Sadono Sriharjo sel
Medan (SIB)
Sebanyak 100 anggota DPRD Sumut dibekali penguatan ideologi Pancasila dari BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) lewat Seminar Wawasan Kebangsaan yang digelar di Aula DPRD Sumut, Kamis (13/10).

Penguatan dan pembekalan Pancasila tersebut dibuka Ketua DPRD Sumut Drs Baskami Ginting didampingi Wakil Ketua Dewan Harun Mustafa Nasution dan Misno Adisyah Putra melibatkan beberapa pemateri, seperti Muhammad Sabri selaku Direktur Pengkajian Kebijakan PIP, Aris Heru Utomo selaku Direktur Pengkajian Materi PIP, Sadono Sriharjo selaku Direktur Pelaksana Pendidikan dan Pelatihan, Toto Purbiyanto selaku Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP-RI.

Baskami mengatakan, pembekalan ini untuk penguatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila yang diselenggarakan BPIP sebagai bekal anggota dewan untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat.

"Kegiatan ini diinisiasi DPRD Sumut kerjasama dengan BPIP sebagai tindak lanjut rapat kerja DPRD Sumut tahun 2022," ujarnya.

Berangkat dari hasil Raker kemarin, katanya, DPRD Sumut, merumuskan bahwa setiap anggota dewan dapat menjadi duta Pancasila untuk membumikan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

Baskami mengatakan, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara, pasca reformasi seperti menjadi barang usang tidak diperdulikan.

Padahal berisikan norma dan nilai-nilai luhur bangsa berasal dari kearifan lokal, terbukti mampu menyatukan berbagai keragaman di bumi pertiwi.

"Pancasila berisikan lima nilai fundamental yang diidealisasikan sebagai konsepsi tentang dasar falsafah negara, pandangan hidup dan idiologi kenegaraan bangsa Indonesia," ujarnya.

Dengan arus globalisasi semakin luas cakupannya, kata Baskami, dalam penetrasinya dan instan kecepatannya setiap negara bukan saja menghadapi potensi ledakan pluralitas dari dalam, tapi juga tekanan keragaman dari luar. (A4/d)




Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru