Sabtu, 05 April 2025

Singapura Geger, Kelompok Supremasi Asia Timur Berencana Bunuh 100 Melayu Muslim

Redaksi - Kamis, 03 April 2025 18:40 WIB
166 view
Singapura Geger, Kelompok Supremasi Asia Timur Berencana Bunuh 100 Melayu Muslim
AFP via Getty Images/ROSLAN RAHMAN
Singapura
Singapura(harianSIB.com)

Singapura dihebohkan dengan kemunculan kelompok supremasi Asia Timur. Seorang remaja Singapura bahkan ditangkap karena diduga berencana membunuh puluhan umat Muslim, yang rata-rata beretnis Melayu, di luar beberapa masjid negeri itu.

Baca Juga:
Hal ini terungkap dari pernyataan Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD), Rabu, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (3/4/2025). Remaja laki-laki berusia 17 tahun bahkan sudah ditangkap Maret kemarin.

Baca Juga:

ISD mengatakan remaja yang tak disebutkan namanya itu menganggap penganut supremasi kulit putih Brenton Tarrant, yang pada tahun 2019 telah membunuh jamaah di masjid-masjid di Selandia Baru, sebagai pahlawan. Ia telah "mengidentifikasi dirinya sebagai kelompok Supremasi Asia Timur dan telah memutuskan lima masjid di seluruh Singapura untuk serangannya setelah salat Jumat.

"Anak laki-laki ini ingin membunuh sedikitnya 100 Muslim, agar ia dapat membunuh lebih banyak Muslim daripada yang dibunuh Tarrant. Ia juga ingin menyiarkan langsung serangannya," kata Menteri Dalam Negeri K Shanmugam kepada wartawan.


"Ketika ia ditangkap... ia telah melakukan sejumlah upaya untuk mendapatkan senjata. Ia mengatakan kepada ISD secara terbuka jika ia mendapatkan senjata, ia akan melakukan serangannya," tambahnya seraya menyebut remaja tersebut telah melakukan kontak daring dengan Nick Lee yang berusia 18 tahun, yang ditahan pada bulan Desember karena memiliki rencana serupa.

Negara multikultural tersebut telah melihat beberapa kasus dalam beberapa tahun terakhir. Di mana warga negara muda Singapura telah ditahan karena diduga membuat rencana serangan setelah terpapar konten ekstremis daring.


Pada tahun 2024, pihak berwenang menangkap seorang remaja laki-laki yang diduga merencanakan serangan penusukan yang terinspirasi oleh kelompok ISIS di pinggiran kota yang ramai. Dalam pernyataan yang sama pada hari Rabu, ISD juga mengatakan bahwa seorang gadis berusia 15 tahun ditempatkan di bawah perintah pembatasan pada bulan Februari, yang melarangnya bepergian atau memiliki akses ke internet tanpa persetujuan dari direktur ISD.


ISD menduga bahwa antara Juli 2023 dan Desember 2024, gadis tersebut menjalin setidaknya delapan hubungan daring romantis jangka pendek dengan para pendukung kelompok Negara Islam yang berbasis di luar negeri.

"Dia pergi untuk bersumpah setia kepada chatbot ISIS," kata Shanmugam.

"Dia ingin berjuang dan mati untuk ISIS, dia mencari tiket pesawat untuk pergi ke Suriah, dia memikirkan bagaimana dia akan menabung untuk merencanakan perjalanannya," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa tren meningkatnya radikalisme dan ekstremisme kaum muda melalui internet "memprihatinkan". ISD mengatakan "radikalisasi diri dapat terjadi dengan sangat cepat".

"Dalam kasus gadis berusia 15 tahun tersebut, hanya butuh beberapa minggu," katanya, sambil mengimbau masyarakat untuk "waspada terhadap tanda-tanda". (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru