Jakarta (SIB)
Pasukan Israel menggempur Sekolah al-Fakhoura yang dikelola PBB di Gaza, Palestina. Dilaporkan 50 orang tewas akibat serangan udara yang dilancarkan pasukan Israel itu.
Dilansir kantor berita AFP, Minggu (19/11), Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sedikitnya 50 orang tewas dalam serangan Israel terhadap Sekolah al-Fakhoura yang dikelola PBB.
Sekolah tersebut berada di kamp pengungsi Jabalia, Gaza Utara. Sekolah itu dijadikan tempat berlindung bagi para pengungsi.
"Sedikitnya 50 orang tewas dalam serangan fajar terhadap Sekolah Al-Fakhoura yang dikelola PBB di kamp tersebut," kata pejabat kementerian kepada AFP.
Jabalia, di Jalur Gaza utara, adalah kamp pengungsi terbesar di wilayah Palestina, tempat sekitar 1,6 juta orang mengungsi akibat pertempuran antara Israel dan Hamas selama lebih dari enam minggu.
Awal bulan ini, Kementerian Kesehatan mengatakan 15 orang tewas akibat serangan Israel di sekolah yang sama. UNRWA mengatakan empat sekolah di Jalur Gaza yang menampung pengungsi akibat perang telah rusak akibat pemboman.
Masih Dirawat
Sementara itu, WHO mengatakan masih ada 25 petugas kesehatan dan 291 pasien, termasuk 32 bayi, di Rumah Sakit al-Shifa Gaza, usai dilakukan evakuasi terhadap sejumlah orang. Sebanyak 32 bayi tersebut dalam kondisi kritis.
Tim penilai kemanusiaan yang dipimpin WHO pada hari Minggu memberikan rincian terkini mengenai kondisi setelah kunjungan ke fasilitas tersebut.
"Pasien termasuk 32 bayi dalam kondisi sangat kritis, dua orang di dalam perawatan intensif tanpa ventilasi, dan 22 pasien dialisis yang aksesnya terhadap pengobatan yang menyelamatkan nyawa sangat terancam," kata WHO dalam sebuah pernyataan, dilansir Al Jazeera, Minggu (19/11).
Tim WHO mengatakan selama dua hingga tiga hari terakhir beberapa pasien meninggal dunia akibat penutupan layanan medis. WHO menyampaikan saat ini tengah dilakukan upaya evakuasi terhadap sisa pasien ke Kompleks Medis Nasser dan Rumah Sakit Gaza Eropa di selatan Gaza. Namun rumah sakit di bagian selatan Gaza juga telah mengalami overkapasitas.
"Tetapi 'rumah sakit ini sudah bekerja melebihi kapasitasnya, dan rujukan baru dari Rumah Sakit Al-Shifa akan semakin membebani staf dan sumber daya kesehatan mereka'" katanya.
Diketahui, sebagian besar staf, pasien, dan pengungsi di Al-Shifa telah meninggalkan fasilitas tersebut pada hari Sabtu. Staf rumah sakit melaporkan bahwa mereka diperintahkan untuk dievakuasi oleh militer Israel.
Sementara para pejabat Israel membantah memaksa orang meninggalkan rumah sakit.
Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Muhammad Abu Salmiya, sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera banyak orang pergi dengan berjalan kaki tetapi 'pasien yang tidak dapat bergerak, diamputasi, dan mereka yang dalam kondisi kritis' terpaksa tetap tinggal bersama segelintir staf medis.
Minta Biden
Di lain pihak, Presiden Palestina Mahmoud Abbas meminta Presiden Amerika Serikat Joe Biden untuk turun tangan menghentikan serangan Israel di Gaza. Abbas meminta Biden untuk menggunakan 'posisi internasional dan pengaruh signifikannya' terhadap Israel.
"Presiden Biden, saya menyerukan kepada Anda, dengan seluruh pejabat Anda dan kemanusiaan, untuk menghentikan bencana kemanusiaan ini, serangan genosida ini terhadap orang-orang kami yang tidak bersalah," kata Abbas dalam pidato yang disiarkan oleh Palestine TV seperti dilansir Al jazeera, Minggu (19/11).
"Sejarah tidak akan membebaskan siapa pun dari kejahatan ini. Saya meminta Anda untuk memberikan bantuan kepada orang-orang kami yang terkepung di Gaza. Perang ini harus segera dihentikan. Bagaimana mungkin genosida bisa menjadi pertahanan diri? Kenyataannya, genosida adalah kejahatan perang yang memerlukan hukuman," sambungnya.
Diketahui, Biden menentang gencatan senjata penuh, sebaliknya ia mendukung 'jeda kemanusiaan' untuk memungkinkan pengiriman bantuan dan menjamin pembebasan tawanan Hamas di Gaza.
Sebelumnya diberitakan, Joe Biden mengatakan Pemerintah Palestina pada akhirnya yang harus memerintah Jalur Gaza dan Tepi Barat setelah perang Israel-Hamas. Biden mengatakan Gaza dan Tepi Barat harus bersatu kembali.
"Saat kita mengupayakan perdamaian, Gaza dan Tepi Barat harus dipersatukan kembali di bawah satu struktur pemerintahan, yang pada akhirnya di bawah revitalisasi otoritas Palestina, seiring kita semua berupaya menuju solusi dua negara," kata Biden dalam artikel opini di Washington Post dilansir Al-Arabiya, Minggu (19/11).
"Tidak boleh ada pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza, tidak boleh ada pendudukan kembali, tidak boleh ada pengepungan atau blokade, dan tidak boleh ada pengurangan wilayah," kata Biden.
Biden menggunakan kolom opini tersebut untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang Amerika inginkan untuk Gaza setelah konflik selesai.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel harus mempertahankan 'tanggung jawab militer secara keseluruhan' di Gaza 'di masa mendatang.' (Detikcom)