Senin, 24 Feb 2020
Banner Menu
Detail Utama 1
  • Home
  • Teknologi
  • Indonesia Rugi Rp142 Triliun Jika Tak Bikin 5G di 700 MHz

Indonesia Rugi Rp142 Triliun Jika Tak Bikin 5G di 700 MHz

Kamis, 13 Februari 2020 22:03 WIB
jawapos.com

Ilustrasi 5G

Asosiasi industri seluler, GSMA (Global System for Mobile Communications Association), meminta agar pemerintah segera melakukan pembebasan frekuensi 700 MHz untuk menggelar jaringan 5G dan 4G. Jika tidak, maka Indonesia berpotensi kehilangan peningkatan ekonomi sebesar US$10,5 miliar atau sekitar Rp142,9 triliun.

Sebab, saat ini frekuensi 700 MHz masih dipakai untuk siaran TV analog. Menurut GSMA jika frekuensi ini tak segera dialihkan untuk layanan 5G dalam 10 tahun ke depan, maka Indonesia bisa rugi hingga triliunan rupiah.

Laporan studi terbaru yang dikeluarkan GSMA mengatakan migrasi TV analog dan alokasi dividen digital untuk layanan broadband seluler dapat membuka era baru dalam konektivitas berkecepatan tinggi untuk warga negara Indonesia. Perhitungan tersebut diperoleh GSMA dengan menghitung dampak langsung dan tidak langsung terhadap produktivitas ekonomi.

"Kita mendapatkan angka bahwa dampak dalam 10 tahun ke depan berada pada angka US$10,5 miliar. Itu berbasis dari mengoneksi 10 juta orang lagi di Indonesia ke internet dan ke sambungan seluler," ujar Kepala Spektrum GSMA, Brett Tezner kepada awak media di bilangan Thamrin, Jakarta, Kamis (6/2).

Alokasi eksklusif dari pita 700 MHz dalam jumlah yang cukup merupakan kunci bagi operator telekomunikasi untuk menghadirkan layanan 4G dan 5G yang terjangkau ke seluruh wilayah Indonesia.

Frekuensi 700 MHz diyakini akan memberikan jangkauan lebih baik dengan infrastruktur lebih sedikit dibandingkan dengan frekuensi tinggi yang membutuhkan infrastruktur lebih banyak. Sebab, frekuensi yang lebih rendah punya cakupan jaringan yang lebih luas. Sehingga, butuh lebih sedikit BTS untuk menjangkau teritori dengan luas tertentu.

Sementara, menempatkan 5G pada frekuensi yang lebih tinggi, membuat operator mesti memasang BTS lebih banyak. Sebab, cakupan wilayah yang bisa dirangkul oleh 1 BTS jadi lebih kecil.

Seiringan dengan realokasi frekuensi 700 MHz, pemerintah juga diminta untuk mencari cara agar operator juga bisa memanfaatkan frekuensi 2,6 GHz dan 3,6 GHz

"Migrasi TV analog dan menempatkan spektrum digital ke layanan ke layanan broadband seluler 4G/5G akan memaksimalkan manfaat ekonomi dan sosial di Indonesia," ujar Brett.

Brett menekankan frekuensi 700 MHz mengatakan kurangnya pemanfaatan spektrum justru membatasi kemampuan operator untuk memperluas jangkauan jaringan. Hal ini juga menghambat adopsi teknologi digital ke depannya.

Malaysia, Filipina, dan Singapura telah menyelesaikan proses untuk mematikan layanan televisi analog mereka. Sehingga, frekuensi yang sebelumnya digunakan untuk tv analog, bisa digunakan operator untuk memperkuat layanan 4G-nya dan menguji jaringan percontohan 5G.

"Karakteristik teknis dari spektrum ini memungkinkan jangkauan lebih baik dengan infrastruktur lebih sedikit dibanding spektrum yang lebih tinggi. Dengan demikian, operator pun bisa mengurangi biaya modal mereka dan konsumen pun akan diuntungkan karena implementasinya bisa lebih cepat," ujar Brett.

GSMA memperkirakan dalam lima tahun ke depan, jumlah pelanggan seluler di Indonesia diperkirakan akan mencapai 199 juta, dengan 177 juta di antaranya menggunakan layanan seluler untuk mengakses internet. (CNNI/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments