Sabtu, 19 Sep 2020

Tajuk Rencana

Zaken Kabinet

Rabu, 03 September 2014 09:51 WIB
Jokowi-JK-  sudah  menegaskan kepada publik bahwa koalisi yang mereka bangun merupakan koalisi tanpa syarat. Artinya, dukungan Parpol bukan karena hasrat untuk memeroleh jabatan menteri. Siapa saja bisa bergabung dengan koalisi yang mereka bangun dengan catatan tanpa syarat. Apa yang ditegaskan Jokowi hendaknya jangan hanya sebatas pencitraan dan wacana saja, harus terimplementasi dengan baik di lapangan.

Tetapi dalam teori komunikasi politik, publik, dan para analis politik selalu meyakini sebuah fatsoen politik, tidak ada makan siang yang gratis (no free lunch). Semua orang yang mau makan siang tentu harus membayar. Masalahnya, dalam penentuan kabinet Jokowi-JK yang terus jadi perbincangan  masyarakat, apakah Jokwi-JK berani membuat sebuah kabinet yang berdasarkan keahlian dan integritas (zaken kabinet)? Kalau kita bicara realitasnya, tentu kabinet yang profesional, ahli di bidangnya dan punya integritas itu sudah pasti sumbernya berasal dari luar Parpol.

Di sinilah letak masalahnya, apakah Parpol iklas jika nanti kadernya tidak ditempatkan dalam  zaken kabinet sementara mereka selalu mengklaim bahwa perjuangan merekalah yang memenangkan Jokowi-JK. Untuk itu, Jokowi harus mampu mengelola dinamika politik yang terjadi. Bisa saja dalam sanubari terdalam Jokowi. Dia ingin membangun suatu tim yang dapat bekerja menerjemahkan visi dan misinya untuk membangun bangsa ini  dengan konsep Indonesia Hebat, revolusi mental, tetapi terhalang  karena banyaknya kepentingan.

Semua elite politik, khususnya yang mendukung, saatnya menyadari bahwa negara kita butuh tata kelola yang lebih profesional, efektif, efisien dan itu bisa dilakukan jika orang yang duduk di kabinet adalah orang yang memahami persoalan dan permasalahan dengan baik, kemudian memberikan solusi menyeluruh untuk mengatasi persoalan bangsa.

Relakah Parpol memberikan tiket kabinet ini kepada kaum profesional yang punya integritas dalam rangka membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik? Dalam tradisi politik negara kita, bahkan setelah reformasi kursi kabinet di mata Parpol adalah kursi yang sangat empuk untuk menimbun amunisi untuk menghadapi Pemilu selanjutnya. Artinya, menteri bisa saja jadi sumber uang Parpol. Setidaknya pertanyaan di atas harus dijawab oleh koalisi Jokowi setelah memenangkan Pilpres 2014. Mengingat dalam teori politik tidak ada makan siang yang gratis akan sangat kuat memengaruhi Jokowi.

Untuk itu, saatnya Jokowi-JK menyadari bahwa yang memenangkan Jokowi-JK adalah rakyat dan bukan Parpol, bukan KPU, bukan pula MK.

Inilah modal utama Jokowi-JK menyusun zaken kabinet  yang punya orientasi masa depan, orientasi kerakyatan, dan mau bekerja untuk kemajuan bangsa.

Semua potensi yang ada di negara ini harus dikelola dengan prinsip untuk kemajuan bersama dan bukan untuk golongan.

Dalam hal inilah kabinet ahli, profesional sangat dibutuhkan sebagai upaya mendorong pembangunan bangsa menuju bangsa yang lebih sejahtera, adil, dan makmur.(#)  

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments