Rabu, 26 Jun 2019

Tingkatkan Stimulus Negara Bagi Kampus Swasta

admin Selasa, 09 April 2019 11:39 WIB
Laporan Bank Dunia tentang indeks Modal Insani 2018 menunjukkan baru 68 persen kaum muda di seluruh dunia yang potensinya telah dikembangkan dengan baik. Skor Indonesia 0,53, masih lebih baik dari India yaitu 0,44. Memang masih ketinggalan dengan Malaysia (0,62). Artinya, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih memiliki ruang besar untuk ditingkatkan.

Dari data tersebut, Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali menilai sudah saatnya Indonesia berfokus pada penguatan sumber daya manusia (SDM) dengan memberikan dukungan yang lebih besar kepada swasta. Ini selaras dengan gagasan Presiden Jokowi yang akan memerkuat SDM ke depan, selain membenahi infrastruktur.

Data Kemenristekdikti 2017, dari total 6,9 juta mahasiswa, 68 persen atau 4,7 juta kuliah di perguruan tinggi swasta ( PTS). Artinya, hanya 32 persen yang dibimbing di perguruan tinggi negeri (PTN). Berarti peningkatan kualitas pendidikan di PTS menjadi sangat penting karena menentukan kualitas mayoritas sarjana di Indonesia.

Ada perbedaan besar antara kampus negeri dengan swasta. Perguruan tinggi swasta tidak pernah membebankan negara dalam soal pembiayaan. Mereka mengandalkan uang kuliah atau sekolah, ditambah bantuan lainnya yang tidak mengikat. Namun mereka dituntut tetap memberikan pelayanan yang terbaik agar kualitas lulusannya sama, bahkan lebih baik dari negeri.

Riset Asian Development Bank menyebutkan kampus swasta di Asia termasuk Indonesia, memiliki empat masalah besar. Pertama, akses ke kampus swasta, yakni meningkatkan jumlah mahasiswa, menyediakan bangku kuliah bagi yang kurang mampu secara finansial dan penyandang disabilitas. Kedua, kualitas perguruan tinggi swasta yang masih bervariasi. Ketiga, biaya tinggi di universitas swasta. Terakhir, sulit mendapat dukungan dana.

Kualitas universitas swasta sebenarnya sudah ada yang bagus. Namun, mayoritas kualitasnya di bawah universitas negeri. Kemenristekdikti menyusun pemeringkatan kualitas perguruan tinggi menjadi lima klaster berdasarkan kualitas sumber daya manusia, lembaga, kegiatan mahasiswa, penelitian dan pengabdian masyarakat, dan inovasi. Hingga kini belum ada perguruan tinggi swasta yang masuk klaster 1 (teratas) pemeringkatan perguruan tinggi terbaik non-vokasi.

Ada empat belas yang masuk klaster 1, seluruhnya adalah universitas negeri. Sebenarnya bisa dipahami, sebab negeri yang lebih dulu memasuki pasar pendidikan tinggi dan ditunjang sumber daya akademis berkualitas, termasuk disubsidi anggaran negara. Sampai saat ini, perguruan tinggi swasta masih di klaster 2 peringkat.

Namun tak sedikit PTS yang daya juang dan inovasinya melebihi perguruan-perguruan negeri. Dosennya mempunyai etos kerja melebihi negeri dan tak pernah menuntut diangkat sebagai PNS atau mendapat status pegawai tetap. Bahkan disiplin pendidikan kampus swasta dan kemampuan beradaptasinya terhadap kebaharuan sudah lama diakui.

Jadi, sudah wajar stimulus negara diberikan memperkuat kampus swasta. Kebutuhan pendidikan swasta sesungguhnya amat beragam. Ada yang hanya membutuhkan fasilitasi dukungan dan tidak diganggu dengan proses regulasi yang menyulitkan. Ada juga yang masih membutuhkan dukungan fasilitas laboratorium, insentif untuk pengembangan, dan beasiswa untuk dosen.(**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments