Kamis, 20 Jun 2019

Tiket Pesawat Domestik Masih Terlalu Mahal

admin Selasa, 11 Juni 2019 10:30 WIB
Minat pemudik menggunakan transportasi udara menurun saat mudik Lebaran tahun ini. Biasanya selalu terjadi lonjakan penumpang, terutama penerbangan domestik. Penyebabnya harga tiket pesawat saat ini sangat mahal sehingga banyak beralih ke angkutan laut dan darat.

Catatan Kementerian Perhubungan, saat mudik Lebaran penumpang kereta api naik 9,4-9,5 persen, bus naik 10-15 persen, dan kapal laut naik 10-15 persen. Sementara, penumpang pesawat turun 15 persen, dari Lebaran tahun sebelumnya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang pesawat domestik pada April 2019 terjadi penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Tren penurunan tersebut yang berlanjut hingga ke bulan Juni ini. Sebenarnya sudah jelas mengapa harga tiket pesawat begitu mahal. Konsumen masih bernostalgia dengan era 2008-2018, saat itu industri maskapai penerbangan menerapkan low cost carrier (biaya murah).

Penumpang masih bisa bepergian dengan mudah dengan ongkos murah rata-rata di bawah Rp 1 juta untuk rute domestik. Saat itu, maskapai penerbangan menggunakan tarif batas bawah (TBB), meski dampaknya membuat mereka merugi, terutama setelah harga avtur naik. Kini industri penerbangan kini beralih ke penetapan tarif batas atas (TBA) yang maksimal.

Artinya, harga tiket pesawat dinaikkan hingga batas maksimal atas, sehingga harga tiket pesawat Jakarta-Medan, Jakarta-Padang, atau Jakarta-Bali sudah tidak ada yang di bawah Rp1 juta. Harga tiket sekarang rata-rata di atas Rp 2 juta. Hal ini yang membuat pemudik beralih ke moda transportasi lainnya.

Sebenarnya pemerintah sudah berupaya menekan harga tiket pesawat agar lebih murah. Caranya dengan menurunkan TBA sekitar 16 persen, sebab itu memang kewenangan Kementerian Perhubungan. Sayangnya, kebijakan tersebut tak berdampak di lapangan, dan harga tiket di mata konsumen masih sangat mahal.

Pemerintah akhirnya mengkaji peluang maskapai asing masuk ke bisnis penerbangan domestik. Tujuannya, agar pemain di bisnis penerbangan Indonesia lebih banyak. Diharapkan ada kompetisi sehingga akan memangkas harga tiket pesawat.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah menyatakan dukungan masuknya pemain baru ke penerbangan domestik. Memang sesuai fakta, industri penerbangan Tanah Air dikuasai dua pemain besar. Pertama, Lion Air Group (Lion Air, Batik Air dan Wings Air) dan kedua, Garuda Indonesia Group (Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, dan Nam Air). Terbatasnya pemain di industri berdampak pada penentuan harga tiket pesawat yang kurang kompetitif.

Harga tiket pesawat domestik diharapkan segera turun. Tidak harus kembali ke era 2008-2019, konsumen masih menolerir kenaikan. Hanya jangan naik terlalu drastis seperti saat ini, yang jauh dari jangkauan warga. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments