Sabtu, 11 Jul 2020

Fokus

Teror Asap

Minggu, 21 September 2014 13:36 WIB
Beberapa-  hari terakhir berita asap kembali menghiasi media massa. Beritanya cukup negatif. Salah satu yang menjadi berita adalah terkendalanya berbagai penerbangan di berbagai wilayah di Indonesia terutama di Pulau Sumatra. Selain itu serangan ISPA mulai membuat masyarakat terganggu.

Apa kata pemerintah? BNPB menyebutkan bahwa berdasarkan pantauan satelit NOAA-18 sampai  beberapa hari yang lalu, kebakaran di seluruh Indonesia sudah meluas. Sebaran hotspot sudah ditemukan terdapat di Sulawesi Tenggara sebanyak 43 titik, Sulawesi Tengah 19 titik, Kalimantan Timur 17 titik, Kalimantan Tengah 15 titik, Sulawesi Selatan 11 titik, Sumatera Selatan 8 titik, Sulawesi Utara 7 titik, Kalimantan Barat 7 titik, Gorontalo 6 titik, Kalimantan Utara 5 titik, Sumatera Utara 3 titik, Jambi 2 titik, Lampung 2 titik, Kalimantan Selatan 2 titik, dan Riau 1.

Kebakaran hutan ini diprediksi akan terjadi sepanjang September 2014 ini. Penyebabnya adalah puncak musim kemarau yang juga akan terjadi di bulan yang sama. BNPB memperkirakan, awal musim penghujan mulai terjadi di titik-titik tersebut pada pertengah Oktober nanti.

Setiap kali kebakaran hutan terjadi, selalu kerugian terjadi. BNPB sudah memperhitungkan kerugiannya. Untuk Provinsi Riau saja, kerugian akibat kebakaran hutan Februari-April 2014 telah menyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun. Ini angka yang luar biasa jika dibandingkan dengan dana yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Tetapi teror terbesar sebenarnya adalah gangguan yang ditimbulkannya. Salah satu dampaknya adalah gangguan pada penerbangan tadi.

Dalam beberapa hari ini, jarak pandang pesawat terbang mulai terganggu. Di Bandara Internasional Kuala Namu, jarak pandang mulai memendek, dan dilihat dari penerbangan, suasana penuh kabut asap terlihat jelas. Penerbangan Garuda dari Kuala Namu menuju Sibolga juga dibatalkan. Kota Padang di Sumatera Barat mendapatkan kiriman asap sehingga menyebabkan penurunan jarak pandang. Hembusan angin dari arah Selatan memang menyebabkan asal kebakaran hutan yang terjadi di Bengkulu, Riau dan Sumatera Selatan menyebar kemana-mana.

Selain gangguan penerbangan, masyarakat juga bisa mengalami ISPA. Gangguan atas asap ini sudah mencapai Singapura sehingga menyebabkan terganggunya kehidupan masyarakat di negara jiran tersebut. Iritasi mata dan gangguan kulit juga marak terjadi setiap kali kebakaran hutan ini terjadi.

Pemerintah Indonesia kelihatannya belum berbuat apa-apa untuk mencegah masalah ini terus berlanjut. Menunggu hujan turun, rasanya bagaikan menanti alam bekerja menolong kita. Ini merupakan tindakan pasif. Teknologi hujan buatan sebenarnya bisa saja diterapkan di wilayah yang merupakan pusat kebakaran.

Memang rasanya sedih menyaksikan kebakaran hutan ini terus saja terjadi. Tahun ini saja bencana kebakaran hutan ini sudah dua kali terjadi dan menyebabkan gangguan berminggu-minggu. Ini merupakan persoalan serius tetapi tidak pernah disikapi dengan serius oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Padahal andaikan BNPB mau mengajak TNI untuk membantu memadamkan api di daerah yang terkena gangguan sangat parah, rasanya hal itu dimungkinkan.

Kita khawatir jika masalah ini terus menerus dibiarkan maka akan muncul gangguan yang lebih serius.

Penutupan bandara demi keselamatan penerbangan akan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.

Gangguan kesehatan juga sangat besar dan tidak bisa dihitung.

Jika dibandingkan, jangan-jangan biaya ini akan lebih besar dari biaya pemadamannya.

Pemerintah, berbuatlah sesuatu menghentikan teror ini (***)

T#gs teror
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments