Sabtu, 19 Sep 2020

Tajuk Rencana

Tanggung-Jawab di Media Sosial

Senin, 01 September 2014 12:33 WIB
Tidak-  dinyana, sebuah kasus menjadi perhatian kita bersama. Sebuah status di media sosial Path, membawa seorang mahasiswa pasca sarjana di UGM, masuk bui. Apa pasal? Mahasiswa bernama Florence br Sihombing katanya menyerobot antrian panjang kendaraan roda empat. Menurut Florence ia buru-buru dan meminta supaya kendaraan roda duanya diisi. Petugas SPBU menolak. Ujung-ujungnya, Florence membuat status yang berisi makian terhadap warga Jogjakarta.   

Statusnya itulah yang kemudian menjadi asal muasal persoalan. Sekelompok warga kemudian melakukan demonstrasi. Warga Yogya melakukan aksi protes di Bundaran Kampus Universitas Gadjah Mada. Dalam aksinya, warga yang protes membentangkan spanduk untuk mengusir Florence. Isinya beberapa bertuliskan, 'Florence Silakan Angkat Kaki dari Jogja', 'Pidanakan Penghina Warga Jogya', 'Aku Wong Jogja Ora Trimo, Usir Florence', 'Usir @Florence' dan masih banyak spanduk lainnya.

Tidak hanya itu. LSM Jatisura melaporkan Florence ke Mapolda DIY atas pelanggaran UU ITE tentang tindak pidana pencemaran nama baik kelompok masyarakat pasal 27 ayat 3, 28 ayat (2) UU ITE no 11 tahun 2008 jo pasal 310 dan pasal 311 KUHP.

Florence kemudian harus mendekam di bui karena polisi menganggap Florence tidak kooperatif. Bukan hanya itu. UGM juga kabarnya akan memeriksa Florence di hadapan sidang etik.

Menghadapi peristiwa di atas, media sosial lagi-lagi memanas. Ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang menuding perlakuan terhadap Florence sangat tidak manusiawi. Mereka juga meminta Polisi bertindak proporsional. Sementara yang kontra menganggap jika kasus itu menjadi penting karena bisa meresahkan masyarakat.

Kasus ini mengingatkan kita pada kasus serupa di Bandung. Seorang eksptariat menghina warga Bandung dengan menulis status bahwa di sana banyak sampah dan jorok. Tak dinyana, status itu kemudian menjadi masalah dan penulisnya harus mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, meski tidak sampai masuk bui.

Di Singapura, seorang pengusaha juga mengalami masalah yang sama. Karena tidak senang dengan kebisingan yang ditumbulkan di kota itu, seorang pengusaha kemudian menuliskannya di twitternya. Status itu kemudian dikecam sampai kemudian pemilik account tersebut meminta maaf kepada warga Singapura.

Media sosial memang saat ini bertumbuh begitu cepat, apalagi di Indonesia. Pengguna internet menjamu dan media sosial berkembang pesat. Pada saat  yang bersamaan, perilaku pengguna media sosial juga baru bertumbuh.

Media sosial masih digunakan untuk menjadi tempat menumpahkan perasaan.

Bukan hanya itu. Dalam masa kampanye yang lalu, media sosial juga tumpah ruah menjadi ajang menyampaikan berbagai berita termasuk kampanye hitam. Banyaknya pengguna media sosial menyebabkan para pelaku politik pun menggunakannya sebagai media mengampanyekan diri sendiri atau melakukan pembunuhan karakter terhadap orang lain.

Karena itulah memang diperlukan tanggung-jawab para pengguna media sosial. Tanggung-jawab itu sangat penting karena UU yang ada juga mengisaratkan pembatasan hal tersebut. Menghina pribadi, apalagi menghina kelompok masyarakat tertentu, bisa berujung kepada masalah serius sebagaimana yang dialami kini oleh Florence.

Kita berharap bahwa perlakuan kepada Florence tidak perlu berlebihan. Polisi ada baiknya melakukan mediasi supaya masalah tersebut tidak sampai masuk ke ranah hukum. Terlalu banyak pengguna media sosial yang nanti menjadi penghuni bui (***)
T#gs Media
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments