Jumat, 13 Des 2019

Segera Beli Alat Deteksi Dini

admin Kamis, 27 Desember 2018 13:13 WIB
Bencana yang melanda berbagai daerah sedikit banyak memengaruhi kunjungan wisatawan. Kawasan pantai biasanya menjadi pilihan dalam pergantian tahun. Namun adanya isu tsunami dan gelombang tinggi lanjutan membuat khawatir warga yang ingin liburan akhir tahun.

Apalagi ada pengakuan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) mengaku tak memiliki alat mendeteksi tsunami yang diakibatkan gempa vulkanik atau longsor di laut. Publik terhenyak, sebab sudah lama ada penegasan Indonesia berada di cincin api. Memang negeri ini berada dalam intaian bencana yang bisa terjadi setiap saat.

Cincin Api melingkari Samudera Pasifik, mulai dari Amerika Selatan sampai Kanada, melingkar ke Jepang dan Selandia Baru sepanjang 40 ribu km. Titik simpulnya ada di Indonesia. Menurut para ahli, 90 persen gempa di muka bumi, dan 80 persen di antaranya adalah gempa terkuat, terjadi di wilayah ini. 

Cincin Api Pasifik dibelit pula  Alpide Belt, yang merupakan jalur gempa nomor dua paling aktif di dunia, yang melingkar dari Timor ke Nusa Tenggara, Jawa, Sumatera, Himalaya, Mediterania, dan berujung di Atlantik. Belum lagi posisi Nusantara yang berada di tumbukan tiga lempeng benua, Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

Itu sebabnya Indonesia seperti tak putus-putus dilanda gempa tektonik dan vulkanik. Menurut BMKG dengan lebih dari  200 patahan aktif dari Aceh sampai Papua, secara teoritis, Indonesia bisa mengalami gempa tektonik 10 kali sehari. Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration  (NOAA) Amerika Serikat,  sejak tahun 416 sampai 2018 ini tercatat 246 kali tsunami di Indonesia.

Presiden Jokowi memberi perhatian sangat serius atas kendala deteksi dini tsunami dan bencana lainnya. Dia memerintahkan ke BMKG untuk membeli alat-alat early warning system yang bisa memberikan peringatan-peringatan secara dini sehingga masyarakat bisa waspada. Sebenarnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengembangkan alat ini, hanya tak digunakan.

Tak ada alasan menunda membeli alat deteksi dini tersebut. Kalaupun bukan alat BPPT, bisa dibeli dari negara yang sudah berkemampuan membuatnya. Namun ke depan, anak negeri harus diberi kepercayaan membuatnya, yang tentu saja kualitasnya harus bisa diandalkan dan akurat.

Sejak 2011, Jepang telah mengembangkan sistem peringatan dini tsunami. Sistem bernama DONET atau Dense Ocean Floor Network System for Earthquake and Tsunamis itu menggunakan sensor dan kabel bawah laut. Sistem  mengirimkan data ke daratan dengan kecepatan atau gelombang cahaya. Saat peringatan itu muncul, masih ada kesempatan mengevakuasi warga, walau mungkin hanya beberapa menit.

Segeralah beli dan instal alat deteksi dini tersebut. Presiden telah setuju sehingga tak ada alasan memperlamanya. Itu konsekuensi di negeri yang berada intaian bencana. Tetap tak ada alasan pesimis, harus tetap optimis, dengan meningkatkan kewaspadaan. (**)

Editor: admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments