Jumat, 13 Des 2019

Saatnya Menggelorakan Kemerdekaan

admin Jumat, 02 Agustus 2019 12:39 WIB
Agustus ini Indonesia genap 74 tahun telah merdeka. Bukan pemberian negara penjajah, tetapi direbut melalui perjuangan panjang. Ada pertempuran mengorbankan nyawa, harta, darah, tenaga dan perasaan. Tak kalah penting, pergerakan diplomasi di dunia internasional.

Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah klimaks dari semua perjuangan. Melainkan awal baru menuju masa depan yang saat itu wujudnya belum diketahui. Dalam kondisi serba tak pasti, anak-anak bangsa yang sangat majemuk bersatu padu.

Lihatlah nama-nama dan latar belakang para bapak dan ibu bangsa. Mereka sangat beragam agama dan suku. Paham politiknya tak sama, tetapi bisa mengalah demi kepentingan Indonesia yang jauh lebih besar.

Pemilu dan pilkada selalu menjadi ujian bagi bangsa ini. Tujuan seharusnya memilih pemimpin yang bisa mewujudkan cita-cita proklamasi. Saat bersamaan, ada saja upaya dan narasi yang dibangun justru ingin menghancurkan Indonesia telah dibangun melalui pengorbanan jutaan orang.

Jika ada pemimpin yang masih bicara sektarian dan primordial, sungguh disayangkan masih ada di usia 74 tahun Indonesia. Kalau isu SARA masih dianggap biasa menjadi alat politik, berarti kondisi bangsa ini seperti sebelum tahun 1928, saat Sumpah Pemuda.
Ketika memilih pemimpin karena agama atau identitas, dan bukan prestasi, betapa negeri ini masih gagal menjadi satu bangsa.

Kemarin sudah memasuki Agustus, bulan kemerdekaan. Penjual bendera sudah marak di jalanan. Untuk menunjukkan rasa kebangsaan, ada imbauan supaya Merah Putih berkibar sebulan. Apakah itu sudah cukup menunjukkan rasa nasionalisme?

Kalaulah rasa kebangsaan diukur dari berapa lama bendera berkibar, kenapa tidak sepanjang tahun saja dipasang di setiap rumah.
Persoalan adalah rasa nasionalisme di dalam hati, apakah benar masih ada di sana? Ukurlah dari sikap terhadap orang lain yang berbeda, mungkin agama, suku, daerah, dan paham politik.

Pada bulan Agustus ini, berhentilah melakukan perayaan yang hanya bersifat seremonial. Kebangsaan tak bisa dibangun hanya dengan seminar sehari atau upacara megah. Keluarga merupakan persemaian awal dan benihnya berkembang di usia sekolah hingga dewasa.

Saatnya menggelorakan kembali kemerdekaan. Apakah rasa kita sebagai bangsa telah sama untuk Indonesia? Bulan Agustus ini, saatnya merenungkan apakah nasionalisme kita sudah tepat? Selamat ber-Agustus, Selamat Merdeka! (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments