Jumat, 29 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Rokok dan Pembunuhan Massal

Senin, 10 Maret 2014 09:48 WIB
PENGELUARAN rokok masyarakat Indonesia melebihi biaya sekolah. Bahkan berdasarkan hasil penelitian salah satu lembaga riset kesehatan pernah mengatakan uang berobat secara nasional lebih banyak dari pendapatan pemerintah dari rokok melalui pajak. Artinya apa yang didapat oleh pemerintah dari pabrik rokok, beserta pendapatan tenaga kerja dua kali lipat,  pemerintah harus mengeluarkan uang untuk mengobati berbagai penyakit. Bahkan anggaran pemerintah dalam bidang kesehatan sebagian besar tersedot hanya untuk mengobati penyakit TBC.

Merokok dalam logika kesehatan adalah investasi penyakit jangka menengah dan panjang. Dampak dari rokok juga sangat banyak. Orang yang ada di lingkungan orang merokok bisa saja terkena penyakit dari rokok. Belum lagi pencemaran lingkungan dari rokok. Perokok aktif seringkali tidak punya kesadaran yang tinggi, bahkan begitu gampang membuang puntung rokok sembarangan tempat dan juga bungkusnya dengan perasaan tidak bersalah. Bahkan fenomena yang paling mengerikan adalah tatkala banyak masyarakat kita   menyetir mobil sambil merokok. Ini tentu sangat membahayakan pengguna jalan yang lain. Butuh larangan dengan hukum yang tegas merokok sambil menyetir.

Kembali kepada permasalahan merokok merupakan pembunuhan massal, mengapa demikian? Jawabannya sangat sederhana. Selain dari sisi kesehatan sangat merugikan, ekonomi keluarga juga bisa tumbang hanya karena merokok. Bayangkan jika si perokok membeli rokok Rp 15. 000 satu hari, inilah pembelian yang paling minim. Sementara harga koran satu buah hanya Rp 3000. Dengan manfaat membaca koran jauh lebih besar daripada membeli rokok yang tidak ada gunanya.

Mengingat dampak merokok yang sangat berbahaya, mulai dari kesehatan, pencemaran lingkungan, dampak pada orang lain, dan dampak pada ekonomi keluarga, maka sudah saatnya masyarakat disadarkan betapa merokok itu merupakan pekerjaan sia-sia. Kita harus lebih keras dan tegas lagi mengatakan bahwa rokok itu merupakan alat pembunuh massal yang harus diwaspadai.

Pabrik rokok memberikan sumbangan pajak, betul dan benar. Tetapi pemerintah mengeluarkan uang untuk mengobati penyakit pernafasan, TBC dan lain sebagainya dua kali lipat dari pajak tokok juga sangat betul dan sangat benar. Masalahnya saat ini sederhana, apakah pemerintah mengutamakan penerimaan pajak rokok atau mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk mengobati berbagai penyakit TBC misalnya?

Disinilah problematikanya. Tidak bisa kita pungkiri bersama pabrik rokok membuka lapangan kerja dan menghidupi petani tembakau dimana-mana. Tetapi jika pemerintah serius bisa dilakukan pendekatan yang lebih baik dengan membuka akses pekerjaan yang lebih baik bagi masyaraktnya.

Kemudian saatnya masyarakat punya kesadaran bersama betapa merokok itu membawa mudarat yang lebih besar bagi diri, bagi keluarga, dan juga bagi komunitas (lingkungan sosial). Saatnya kita semua menyadari hidup ini adalah persoalan apa yang kita tanam dan tabur. Jika kita sedari sekarang merokok, dan kemudian suatu hari kita terkena penyakit TBC atau infeksi pernafasan lainnya, maka penyesalan yang akan datang. Belum lagi kalau kita berhitung tentang dampak ekonomi dari pengeluaran untuk rokok.

 Alangkah bagusnya uang rokok itu dialihfungsikan untuk investasi kesehatan dan juga pendidikan. Uang sekolah si anak merupakan human invest jangka panjang. Jika uang rokok dipergunakan untuk pendidikan si anak maka si anak akan punya masa depan yang lebih baik. Mari membangun komunitas masyarakat tanpa rokok demi sebuah proyek masa depan yang lebih baik. Ingat, masa depan sebuah bangsa sangat tergantung sejauh mana bangsa itu punya kemauan dan komitmen yang keras.

Tuhan hanya mau menolong masa depan manusia jika manusia itu mau menolong masa depan dirinya dengan melakukan hal -hal yang terbaik dalam hidupnya. Tidak merokok merupakan salah satu menyelamatkan masa depan kehidupan.(#)   

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments