Senin, 22 Apr 2019

Remaja yang Hilang Kendali

admin Kamis, 11 April 2019 10:37 WIB
Kasus pengeroyokan dan penganiayaan Audrey, siswa SMP di Pontianak sebenarnya terjadi akhir Maret lalu. Namun baru viral dan membetot perhatian publik baru awal April hingga saat ini. Petisi yang dibuat secara daring telah mencapai 2,9 juta, angka yang fantastis, yang intinya meminta polisi bertindak tegas dan memberi keadilan kepada korban.

Mirisnya, pelakunya ternyata masih duduk di bangku SMA. Awalnya disebut jumlahnya ada 12 orang, dan keterangan terbaru dari polisi, ternyata pelaku utama ada tiga. Pengeroyokan dan penganiayaan dilakukan di dua tempat terpisah. Meski begitu, tidak tertutup kemungkinan ada tersangkanya bakal bertambah.

Hasil visum sudah keluar, dan membantu meluruskan kesimpangsiuran yang beredar. Sebab di media sosial, sudah banyak informasi yang sudah dibumbui sehingga berbeda dari cerita sebenarnya. Kemarahan publik diharapkan bakal mereda dan menyerahkan proses selanjutnya ke tangan penegak hukum.

Polisi telah berjanji mengusut tuntas kasus ini. Pelaku yang masih kategori di bawah umur tentu tetap harus dilindungi haknya. Salah atau benar, nanti akan diputuskan di pengadilan. Dalam proses hukum ini, identitas korban dan pelaku seharusnya tak etis diekspos secara luas.

Jauh lebih penting, bagaimana mencegah kasus serupa terjadi terhadap anak-anak dan remaja. Sungguh memprihatinkan, pelaku masih pelajar SMA, namun aksinya sangat brutal, di luar perikemanusiaan. Padahal persoalannya hanya masalah komentar di media sosial, yang diduga menyinggung salah satu pelaku.

Perlu dilakukan penelitian secara mendalam, apa pemicu remaja sekarang seperti kehilangan kendali. Belakangan ini kenakalan anak secara kualitas dan kuantitatif makin meningkat. Para pakar harus duduk bersama dan memberi rekomendasi apa yang harus dilakukan.

Orangtua dan sekolah mesti bersinergi dan jangan saling menyalahkan. Keluarga merupakan awal bersemainya karakter dasar anak. Pada tahap selanjutnya, setelah memasuki dunia pendidikan, pergaulan dan lingkungan ikut memengaruhi. Anak yang bisa rusak jika bergaul dengan orang yang salah.

Menjadikan anak sebagai sahabat dan mitra akan membuat guru serta orangtua bisa memantau perkembangan anak. Sayangnya, banyak orangtua dengan dalih kesibukan, jarang berkomunikasi dan duduk bersama anak. Mereka merasa sudah cukup jika sudah melengkapi fasilitas dan mengirimnya ke sekolah.

Kita berharap jangan ada lagi korban seperti Audrey lagi. Kejadian ini harus menjadi pelajaran bersama. Bukan hanya tanggung pemerintah atau polisi saja. Mari antisipasi dengan meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak dan remaja. Moga lekas sembuh Audrey, doa kami untukmu. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments