Kamis, 21 Nov 2019

Puskesmas Ujung Tombak Tindakan Preventif dan Promotif

bantors Selasa, 29 Oktober 2019 10:37 WIB
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) telah tersebar ke seluruh penjuru tanah air. Paling tidak, ada di setiap kecamatan, dan Puskesmas Pembantu di tingkat desa. Banyak di antaranya telah menerima pasien rawat inap, sehingga harus ada dokter dan perawat yang berjaga 24 jam di sana.

Satu sisi pemanfaatan Puskesmas menjadi "rumah sakit mini" membantu pasien yang memerlukan perawatan cepat, dianggap sebagai terobosan. Namun tugas tersebut menggeser prioritas tugas. Seharusnya lebih fokus ke tindakan preventif (pencegahan) dan promotif (penyuluhan).

Puskesmas yang berada di lingkup pemerintah kabupaten/ kota akhirnya menyerap anggaran untuk tindakan kuratif. Tak heran sering dikeluhkan besaran anggaran kesehatan yang dianggap kurang dibanding kebutuhan. Padahal di daerah, ada rumah sakit mulai dari berbagai kelas, yang tugas utamanya untuk pengobatan.

Harusnya Puskesmas jika menemukan ada pasien yang memerlukan rawat inap, tinggal merujuk ke rumah sakit terdekat. Jadi tak perlu beban untuk rawat inap. Pengecualian mungkin untuk daerah tertentu yang sangat jauh dari rumah sakit. Namun, sifatnya hanya sementara dan harus segera dirujuk apabila memerlukan tindakan intensif.

Kondisi Puskesmas ini menjadi perhatian Menteri Kesehatan yang baru Terawan Agus Putranto. Dia akan mengembalikannya ke fungsi awal, sebagai fasilitas kesehatan dengan konsentrasi pelayanan pada upaya promotif dan preventif. Konsentrasi pelayanan Puskesmas akan dikembalikan antara lain mencakup edukasi kesehatan serta pencegahan dan deteksi dini penyakit.

Fungsi Puskesmas yang lebih fokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif atau pengobatan, akan menyedot layanan kesehatan. Jika kembali ke upaya promotif dan preventif, maka orientasi Puskesmas akan lebih pada keberhasilan program kerja. Jadi, fokusnya adalah mencegah orang menjadi sakit, bukan hanya melayani orang yang sakit.

Pengoperasian Puskesmas menangani kuratif dan preventif ternyata berkontribusi terhadap defisit BPJS Kesehatan. Akibat kendornya tindakan preventif dan promotif, banyak orang sakit. Padahal lebih baik mencegah daripada mengobati.

Secara medis dijelaskan penyakit banyak muncul karena gaya hidup tidak sehat. Sebenarnya tak perlu harus rawat inap, jika hidup bersih, istirahat yang cukup, berpikir positif dan menjaga pola makanan. Sekarang malah ada kesan, tak perlu takut sakit sebab sudah ada BPJS Kesehatan.

Cara pikir yang salah ini harus diubah dengan menggencarkan upaya preventif dan promotif. Puskesmas harus kembali menjadi ujung tombak. Masyarakat perlu edukasi ulang bagaimana hidup yang sehat. Meski gratis berobat, atau ada asuransi, jauh lebih baik tidak jatuh sakit. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments