Kamis, 20 Jun 2019

Pergantian Tahun Tanpa Pesta Pora

Admin Sabtu, 29 Desember 2018 09:45 WIB
Sebenarnya saat ini Indonesia sedang berduka. Ada banyak anak-anak negeri ini sedang larut dalam kesedihan. Mereka kehilangan anggota keluarga akibat dilanda tsunami dan gelombang tinggi. Sebagian menjadi korban gempa, banjir dan longsor.

Sebagai sesama anak bangsa, meski bukan sedarah, sudah seharusnya solider. Simpati dan empati memang tidak harus digembor-gemborkan. Tetapi harus diwujudkan dalam  sikap dan perbuatan secara nyata.

Tidak semua bisa menjadi relawan dengan mendatangi lokasi bencana. Bentuk solidaritas bisa dengan memberikan bantuan material, yang disalurkan dalam berbagai cara. Sebab ada banyak lembaga sosial yang membuka rekening dalam rangka meringankan beban korban.

Kalaupun tak membantu sebagai relawan, dan material, paling tidak tunjukkanlah sikap solider dengan tidak berlebihan dalam merayakan pergantian tahun 2018 ke 2019. Biasanya acara "old and new" selalu semarak dengan berbagai pertunjukan spektakuler.

Merayakan tentu tidak salah, sebagai bentuk ucapan syukur atas berkat Tuhan sepanjang tahun 2018, dan berdoa untuk memasuki 2019. Hanya janganlah sampai pesta pora. Mari mengingat juga saudara kita yang sedang dalam penderitaan.

Sebab sudah tradisi dan diagendakan adanya perayaan Tahun Baru. Tempat-tempat wisata biasanya sudah mempromosikannya sejak jauh-jauh hari. Tidak mungkin membatalkannya secara sepihak, sebab bisa merusak citra yang dibangun selama ini.

Alangkah bijaknya seandainya di acara pergantian tahun ada juga penggalangan dana untuk para korban bencana. Panitia bisa menyisipkannya di rangkaian kegiatan. Hal tidak terlalu repot, malah menjadikan acara Tahun Baru menjadi sangat humanis.

Acara Tahun Baru bisa juga diisi dengan doa bersama. Meski sederhana  dan tak semarak tetap takkan mengurangi makna syukur itu sendiri. Sebab hakekat sukacita ada dalam hati, bukan pesta pora.

Jadi bukan berarti tak boleh ada terompet, kembang api dan musik. Itu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi kegembiraan. Hanya jangan berlebihan, hedonis, dan larut dalam euforia. (**)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments