Kamis, 21 Feb 2019

Perayaan Imlek Bukti Menangnya Kebhinekaan

admin Senin, 04 Februari 2019 13:00 WIB
Besok, Selasa 5 Februari 2019, warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Angkanya menunjuk 2570 dan merupakan tahunnya Babi Tanah. Tahun ini setelah Tahun Anjing Tanah (2018) dan sebelum Tahun Tikus Logam (2020) yang diyakini akan membawa keberuntungan dan berkat bagi banyak orang.

Ada yang menganggap Imlek merupakan perayaan agama tertentu saja. Ternyata, orang Tionghoa yang merayakannya sangat beragam, dari berbagai keyakinan. Biasanya mereka berdoa bersama dan bersilaturahmi dengan keluarga serta para handai tolan.

Bagi saudara kita warga Tionghoa Indonesia, Imlek bukan sekedar tradisi saja. Namun sebagai wujud menangnya kebhinekaan atas semangat sektarianisme. Sebab sejak lama ada larangan merayakan Tahun Baru Imlek. Dengan Inpres Nomor 14 Tahun 1967, rezim saat itu melarang apa pun yang bernuansa Tionghoa, termasuk Imlek.

Era baru muncul pada 17 Januari 2000, saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkuasa. Dia mengeluarkan Keppres Nomor 6 Tahun 2000 yang berisi pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Sejak saat itu, Imlek pun bebas dirayakan. Presiden Megawati Soekarnoputri lalu menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional mulai 2003.

Pengakuan atas keragaman anak bangsa makin kuat dengan diterbitkannya Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006 yang tidak lagi mengotak-ngotakkan warga bangsa dalam kategori asli atau bukan. Kemudian, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Negara makin membumikan apa itu Bhinneka Tunggal Ika sesuai nilai luhur Pancasila.

Ada yang menganggap orang Tionghoa merupakan warga kelas dua, dengan adanya istilah pribumi dan non-pribumi. Catatan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUK), ternyata pendiri negara ini ada orang Tionghoa juga. Mereka adalah bagian dari Indonesia yang ikut memerdekakan negara ini.

Jadi hentikan sikap mendiskriminasi berdasarkan suku, agama, ras dan golongan. Indonesia berdasarkan Pancasila merupakan rumah besar bagi semua anak bangsa, termasuk Tionghoa.

Sebaliknya mereka juga tak boleh menutup diri dan harus ikut berkontribusi membangun Indonesia. Orang Tionghoa harus bekerja keras mengikis stigma atas mereka.

Alangkah baiknya sifat eksklusif atau tertutup dihindarkan. Jika masih ada yang tinggal di rumah yang seolah tak mau berhubungan dengan tetangga, maka harus membuka diri bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Untuk itu, dalam perayaan Imlek tahun ini, dalam suasana tahun politik, jelang Pemilu 2019, sebarkanlah kedamaian dan kesejukan. Jangan terlalu larut hanya dalam kesemarakan. Alangkah baiknya warga lain yang kurang beruntung karena bencana, mendapat uluran tangan dari warga yang merayakan Imlek. Selamat Imlek, Gong Xi Fa Cai. (**)
T#gs Perayaan Imlek Bukti Menangnya Kebhinekaan
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments