Rabu, 21 Agu 2019

Pelajaran Dari Haranggaol

admin Minggu, 09 Juni 2019 09:27 WIB
Sabtu kemarin, harian ini menyiarkan di halaman 1 tentang destinasi wisata Haranggaol, Simalungun. Selama 10 tahun terakhir, kawasan ini selalu ramai saat liburan, termasuk Lebaran. Namun, tahun ini terasa sangat sepi dari pengunjung sehingga pebisnis wisata di sana terpaksa "gigit jari".

Memang belum ada penelitian mendalam penyebab sepinya pengunjung. Sebab ada beberapa faktor yang membuat destinasi wisata tak lagi menjadi pilihan. Bisa saja tak ada lagi yang menarik di sana, sehingga turis memilih ke tempat lain.

Dilihat dari potensi wisatanya, Haranggaol sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, sama seperti kawasan Danau Toba lainnya. Panoramanya indah, pantainya eksotik dan budayanya yang unik. Warganya juga sudah mulai sadar budaya wisata, yakni keramahtamahan.

Lalu mengapa tak menjadi pilihan? Harian ini secara lugas menyebutkan buruknya infrastruktur sebagai penyebabnya. Jalannya rusak, sehingga bukan hanya mobil yang sulit melaluinya, yang menggunakan sepedamotor pun mesti berjuang.

Pemerintah Pusat sebenarnya sudah maksimal membenahi kawasan Danau Toba. Namun tidak mungkin bisa menyelesaikan semua masalah dalam sekejap mata. Di sini peran pemerintah daerah, baik kabupaten dan provinsi untuk bersinergi.

Patut disayangkan, momen mudik Lebaran harusnya dimanfaatkan untuk menarik wisatawan. Kalaupun anggaran dijadikan alasan karena keterbatasan, paling tidak bisa dibenahi sehingga memadai untuk dilalui. Sayangnya, tak ada tindakan apa-apa di lapangan untuk membenahinya.

Pemerintah Pusat jangan dibiarkan sendirian membenahi kawasan Danau Toba. Kabupaten Kota dan Provinsi diharapkan terlibat aktif. Sebenarnya tinggal menyesuaikan dan mengisi bagian mana yang belum tergarap.

Pengalaman Haranggaol harus menjadi pelajaran berharga. Anggaran Kabupaten Kota dan Provinsi harusnya bisa dimanfaatkan. Meski tidak langsung tuntas masalahnya, warga dan pengunjung sudah terbantu.

Kita berharap sinergi pusat dan daerah akan memacu kebangkitan pariwisata Danau Toba. Komunikasi dan koordinasi sebaiknya diintensifkan. Ego sektoral harus dikikis dan diperlukan kemauan politik dari kepala daerah masing-masing. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments