Rabu, 19 Jun 2019

Pancasila Memberi Ruang Bagi Perbedaan

admin Jumat, 31 Mei 2019 09:22 WIB
Besok, tepatnya tanggal 1 Juni, diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Tujuh puluh empat tahun yang lalu, Ir Soekarno menyampaikan pidato di hadapan BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) dan memerkenalkan lima sila yang menjadi dasar negara dengan nama Pancasila. Hal tersebut kemudian diformalkan dalam sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 18 Agustus 1945.

Pancasila bukanlah ideologi asing yang diadopsi Indonesia. Nilai-nilai Pancasila bersumber dari khasanah budaya Indonesia yang sangat kaya. Bangsa ini sejak dulu sudah mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Lalu, menghargai kemanusiaan, dan mempraktikkannya dengan sikap saling menghormati. Ada juga nilai persatuan, demokrasi dan keadilan.

Secara praktik, nilai-nilai Pancasila sudah dianut orang Indonesia sejak dulu. Boleh saja ada analisis yang menyebutnya 'ideologi tengah'. Namun, tak terbantahkan, nilai-nilai luhur Pancasila sudah membumi dan eksis di Indonesia sejak dulu.

Sayangnya, dari anak bangsa sendiri, ada yang tak menyukai Pancasila. Mereka terpengaruh paham impor, baik dari Timur, maupun Barat. Mereka dengan berbagai cara ingin mengganti Pancasila, secara halus, maupun kasar (kekerasan).

Kenapa Pancasila begitu mereka benci? Antara lain, sebab Pancasila memberi ruang bagi semua anak bangsa, yang berbeda agama, suku dan golongan. Di dalam Pancasila meski berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Kelompok anti-Pancasila tak suka ini. Mereka ingin menindas orang yang tak sepaham dengan mereka.

Lihatlah bagaimana kelompok anti-Pancasila menunggangi unjuk rasa menolak hasil Pemilu 2019. Temuan polisi, mereka ingin memanfaatkan situasi agar negara rusuh. Namun, Tuhan Yang Maha Esa melindungi Indonesia dan upaya mengacau akhirnya gagal.

Mereka yang anti-Pancasila ini mengharamkan perbedaan, senang mengkafirkan sesamanya, bahkan seagamanya. Kekerasan dihalalkan, dan pembunuhan dianggap biasa, demi tujuannya sendiri. Paham ini dicoba ditularkan di Indonesia dengan segala cara.

Paham impor ini bahkan mengincar kaum intelektual, yang merupakan calon pemimpin bangsa. Mahasiswa dan dosen sudah ada yang terpapar. Ini ancaman serius bagi bangsa ini. Upaya serius dan drastis perlu diambil untuk menyelamatkan masa depan Indonesia dari radikalisme, intoleran dan terorisme.

Untuk menangkalnya, mari mengamalkan Pancasila bukan hanya hapalan saja. Tetapi benar-benar nyata dalam keseharian. Kembangkanlah toleransi dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Jangan alergi dengan perbedaan, itu justru memperkaya dan menguatkan bangsa ini. Pancasila akan lebih membumi, jika semua orang Indonesia benar-benar menghidupinya lahir batin. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments