Selasa, 12 Nov 2019

PRSU Bukan Pasar Malam

admin Selasa, 12 Maret 2019 09:58 WIB
Jumat pekan lalu, Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) resmi dibuka. Semua kabupaten kota membuka stan masing-masing dengan berbagai keunggulannya. Ada yang memamerkan produk andalannya dan menunjukkan kekayaan budayanya ke pengunjung.

PRSU memiliki sejarah panjang bersama Kota Medan. Pertama sekali dibuka tahun 1971, pada masa Sjoerkani menjabat sebagai walikota. Namanya waktu itu disebut "Medan Fair", atau lebih populer "Taman Ria". Lokasinya di Petisah, Jl Gatot Subroto, tepat di lokasi Carrefour sekarang.

Medan Fair kemudian dipindahkan ke Tapian Daya, yang lokasinya masih di Jalan Gatot Subroto, pada tahun 2003. Alasannya mempertimbangkan luas lokasinya. Tapian Daya memiliki luas hingga 6,7 hektare. Luas kawasan ini dianggap cukup untuk menampung 33 stan daerah kabupaten dan kota, bersama stan-stan UKM lainnya.

Pada masa jayanya, Medan Fair selalu ramai dengan pengunjung. Bukan hanya warga Medan saja, dari luar kota berdatangan. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu dan serasa tak lengkap jika tak berkunjung ke sana.

Mungkin karena pada masa itu masih minim sarana hiburan yang murah dan massal. Saat artis ibukota datang, Taman Ria bisa sesak dengan pengunjung. Ada banyak orang yang terbantu ekonominya dengan adanya Medan Fair.

Dalam perjalanan waktu, pengunjung PRSU tak seramai dulu. Mungkin ada berdalih karena warga sudah memiliki banyak pilihan sebagai tempat hiburan. Namun, apakah PRSU hanya menjadikan hiburannya saja sebagai daya tarik bagi pengunjung?
Sebagai pembanding, tahun 2016, jumlah pengunjung sebanyak 275.000 orang. Jika dibandingkan penyelenggaraan PRSU tahun 2015, pengunjung memang naik sebesar 134.680 orang atau kurang lebih 50 persen dari tahun 2015 yang tercatat berjumlah 140.320 orang. Tahun 2017 naik tipis menjadi 310.000 orang, dan 2018 sebanyak 375.000 orang.

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Sumatera Utara tahun 2018 mencapai 14.415.400 jiwa, berarti hanya sekitar 3,8 persen yang berkunjung di tahun yang sama ke PRSU. Tahun ini panitia menargetkan 600.000 orang, angka yang fantastis, sebab naik hampir 100 persen dari 2018. Apakah target ini bakal tercapai?

Jika PRSU masih sekelas pasar malam, maka target tersebut sulit dicapai. Sebab hiburan di tempat lain tak kalah menarik. PRSU bukanlah pasar malam! Harus ada "sesuatu" yang inovatif dari karya anak Sumut dipamerkan di sana. Orang akan berduyun-duyun jika ada yang unik dan menarik serta yang dibutuhkan ada di PRSU. (**)
T#gs PRSU Bukan Pasar Malam
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments