Rabu, 23 Jan 2019

Orang Indonesia Harus Terima Fakta Kemajemukan

admin Sabtu, 05 Januari 2019 12:59 WIB
Entah terkait tahun politik dan sikap tegas Presiden Jokowi, kelompok teror beraksi kembali di beberapa lokasi di tanah air. Bisa jadi aksi mereka untuk menunjukkan masih eksis. Ruang geraknya memang semakin terbatas karena operasi penangkapan terus berjalan.

Sepanjang 2018, sebanyak 396 terduga anggota kelompok teroris yang ditangkap aparat. Memprihatinkan, aksi teror sepanjang 2018 naik 42 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, jumlah anggota Polri yang menjadi korban sepanjang 2018 juga meningkat sebanyak 72 persen dibandingkan 2017. Sedangkan, jumlah aksi teror sepanjang 2018 sebanyak 176 kejadian.

Dari 396 pelaku teror yang ditangkap Polri, sebanyak 141 orang sudah masuk dalam proses persidangan. Sebanyak 204 orang dalam proses penyidikan, dan 25 orang ditembak mati. Lalu, 13 orang bunuh diri, 12 orang telah divonis, dan 1 orang meninggal dunia karena sakit.

Harus diakui, terorisme masih ada di Indonesia. Meski dibungkus dengan istilah keagamaan, pada hakekatnya mereka tidak beragama. Sebab untuk mencapai tujuan dalam menebar teror, tak segan-segan menghalalkan segala cara. Tak peduli anak-anak, remaja dan dewasa, dengan berbagai latar belakang, bisa dijadikan korban dengan cara biadab.

Terorisme tidaklah lahir begitu saja. Ada proses waktu dan indoktrinasi yang membuat seseorang menjadi pelaku teror. Dalam banyak kasus, mereka umumnya dikenal sebagai orang yang "baik" dan taat beragama.

Biasanya, terorisme dimulai dari sikap intoleran terhadap perbedaan dan radikalisme. Mereka diajarkan menyangkali bahwa sebenarnya perbedaan juga anugerah Tuhan. Indonesia sudah sejak zaman nenek moyang dihuni beragam agama dan etnis.

Pembiaran terhadap intoleransi dan radikalisme berkontribusi dalam melahirkan generasi terorisme. Tinggal menunggu waktu saja, mereka akan menjelma menjadi penebar ketakutan dan pembunuh sesamanya.

Itu sebabnya, negara harus tegas terhadap kelompok intoleran dan radikal. Kebencian terhadap simbol agama tertentu, sudah merupakan indikasi dalam diri seseorang atau sekelompok masyarakat, telah berkembang bibit terorisme. Deteksi ini akan menyelamatkan bangsa ini, dengan memberikan terapi yang tepat bagi yang mereka yang terkontaminasi "virus" intoleran dan radikalisme.

Tindakan represif harus dilanjutkan, hanya itu bukan satu-satunya opsi. Di hulu, harus ada upaya preventif untuk mengindonesiakan generasi ini agar menerima dirinya sebagai orang Indonesia. Menjadi Indonesia, berarti menerima kenyataan bangsa ini majemuk dan saling menghargai satu sama lain. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments