Minggu, 20 Okt 2019

Merawat Batik Warisan Nenek Moyang

admin Minggu, 06 Oktober 2019 11:59 WIB
Pekan lalu merupakan Hari Batik Nasional di Indonesia, Meski tak ada upacara dan hari libur khusus, perayaannya semarak. Hampir semua kantor, baik pemerintah maupun swasta mewajibkan pekerjanya mengenakan pakaian khas tersebut.

Batik kini makin beragam, baik dari sisi bahan, warna dan motif. Jika dulu didominasi motif dari Jawa, sekarang telah muncul keunikan di setiap daerah. Pengrajin batik makin berani berkreasi menggali gaya lokal yang bersumber dari kekayaan bangsa.

Tak perlu khawatir ciri khas batik akan hilang akibat kreativitas tersebut. Justru makin memperkaya dan melambungkannya sebagai pakaian internasional. Batik tak lagi hanya populer di Indonesia, masyarakat internasional pun tak malu-malu mengenakannya.

Batik memang memenuhi syarat sebagai mode internasional. Praktis dan menarik telah dipenuhinya. Semua orang bisa berkreasi sesuai keinginan pengrajinnya. Tak mustahil suatu saat akan muncul batik gaya Afrika dan berbagai negara di belahan dunia.

Apakah itu akan membuat Indonesia tak lagi sebagai pemilik batik? UNESCO sudah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Penetapan itu sendiri memiliki sejarah panjang, yang diawali klaim Malaysia atas batik.

Indonesia pun mengikutsertakan batik dalam proses nominasi yang dilakukan 3 September 2009. Kemudian, 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan bahwa batik adalah Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi Indonesia. Sebagai warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO pada 2 Oktober 2009, batik merupakan hasil kebudayaan Indonesia yang sarat nilai.

Batik telah menjadi perekat bangsa sekaligus menjadi simbol persatuan. Dengan berbatik, tidak ada lagi strata sosial, kaya maupun miskin. Karena batik menjadi simbol solidaritas, kolektivitas dan kebersamaan.

Jika orang asing saja mau mengenakannya, mari dengan bangga berbatik pada momen tertentu. Pengrajin daerah mesti berpacu menghasilkan karya batik dengan menggunakan bahan, motif dan desain baru. Pada waktunya pasar akan menyeleksi mana yang bertahan, sesuai selera konsumen.

Pada Hari Batik Nasional ini, mari menyampaikan apresiasi terhadap keluhuran budaya nenek moyang kita. Tak bisa dipungkiri tingginya peradaban para leluhur yang mewariskannya. Tugas generasi sekarang adalah merawat dan mengembangkannya sehingga tak lekang dalam perjalanan sejarah dunia. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments