Sabtu, 24 Agu 2019

Menjaga Sumut; Merangkul Semua Suku dan Agama

admin Kamis, 16 Mei 2019 10:37 WIB
Panglima TNI dan Kapolri secara khusus datang ke Sumatera Utara (Sumut). Meski dalam rangka Safari Ramadan, namun makna kunjungan penanggung-jawab keamanan dan ketertiban tersebut sangat dalam. Apalagi ada pengakuan bahwa daerah ini merupakan barometer stabilitas keamanan di wilayah Barat, Indonesia.

Sudah lama ada cerita tentang "keberuntungan" dan "angkernya" Sumut. Tak heran, konon siapa yang berhasil menjadi Kapolda atau Pangdam di daerah ini, maka kariernya bakal cemerlang. Sebaliknya jika gagal, maka akan mentok dalam perjalanan dinas selanjutnya.

Sebut saja Sutanto, Badrodin Haiti dan Bambang Hendarso Danuri, yang pernah menjabat Kapolda Sumut, kemudian menjadi orang nomor satu di Polri. Hal yang sama dari TNI, kemudian meroket kariernya di level nasional. Sumut dijadikan sebagai tolok ukur kepemimpinan nasional apakah mampu mengurusi masalah yang lebih kompleks.

Menjadi pemimpin di Sumatera Utara memang tak mudah. Sebab Sumut seperti Indonesia mini. Karena majemuk, potensi konflik cukup tinggi dan bisa meletup jika lengah.

Tak heran provokator mengincar daerah ini untuk kacau, rusuh dan terpecah-pecah. Bukan sekali dua kali saja ada upaya menggoyang kerukunan antarumat beragama dan etnis di Sumut. Tujuannya jelas agar terjadi konflik horizontal dan vertikal, yang bisa meluas ke daerah lain.

Patut disyukuri, hingga kini Sumut masih tetap kondusif. Tetap ada upaya menciptakan Sumut tidak aman namun berkat kesigapan Polri-TNI dan jalinan silaturahmi yang erat di antara tokoh masyarakat, situasi kondusif tetap dapat terjaga.

Tentu kita tak boleh lengah walaupun semua masih aman terkendali. Polri-TNI diharapkan terus melakukan deteksi dini, sehingga jika ada masalah, bisa diselesaikan sebelum menjadi besar. Komunikasi antara pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat mesti dirawat. Pertemuan berkala sebaiknya digelar agar kemungkinan pecah konflik karena SARA bisa dicegah.

Para pemimpin daerah disarankan tetap proporsional dalam menjalankan kekuasaannya. Sumut bukanlah milik satu agama dan suku saja. Semua potensi bangsa mesti dirangkul agar berkontribusi dalam pembangunan dan kehidupan sehari-hari.

Saat ini banyak kabar bohong beredar yang tujuannya mengadu domba dan menciptakan kerusuhan. Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus proaktif mendampingi dan membina masyarakat agar tak gampang tersulut emosinya. Mari jadikan Sumut tidak hanya barometer keamanan, tetapi juga kesejahteraan rakyat. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments