Sabtu, 23 Mar 2019

Mengunci Ruang Gerak Sindikat Narkoba

admin Senin, 11 Maret 2019 10:52 WIB
Masalah Narkoba sebenarnya terjadi setiap hari. Ada yang terungkap, dan lebih banyak pula yang tak ketahuan. Mirip dengan fenomena gunung es, yang terlihat hanya puncaknya. Jauh lebih banyak kasus Narkoba yang tak terdeteksi aparat.

Sudah hampir semua kalangan profesi yang terlibat kasus Narkoba. Artis biasanya mendapat sorotan lebih, mungkin karena banyak penggemarnya. Belakangan kembali mencuat karena ada petinggi partai politik tertangkap, dan ketepatan sedang menjelang penyelenggaraan Pemilu 2019.

Sayangnya, masih ada segelintir orang menganggap sepele masalah Narkoba. Mereka melihatnya hanya kasus biasa dan tak perlu dibahas terlalu dalam. Padahal, penyalahgunaan Narkoba dikategorikan sebagai kejahatan luarbiasa.

Posisinya sebenarnya sama dengan kasus korupsi dan terorisme. Itu sebabnya negara menganggap penting sehingga untuk masing-masing jenis kasus, ada badan khusus yang menanganinya. Korupsi diurus KPK, teoris oleh BNPT dan Densus 88, serta Narkoba ditangani BNN dan Polri.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat kerugian negara dari penyalahgunaan Narkoba mencapai Rp 72 triliun per tahun. Ini lebih dua kali lipat dari kerugian akibat tindak korupsi Rp 31 triliun per tahun. Jumlah kerugian akibat Narkoba diperkirakan meningkat hingga hampir dua kali lipat pada 2022, yakni diperkirakan Rp 152 triliun.

Dari hitungan korban jiwa, daya rusak Narkoba mencapai 30-40 orang korban per hari di Indonesia. Bandingkan dengan korban jiwa akibat terorisme 80 orang/hari di seluruh dunia. Artinya, peredaran Narkoba sudah sangat massif. Tangkapan hingga berkilo-kilo, bahkan ton sudah kerap diberitakan. Berapa lagi Narkoba yang tak tertangkap?

Belum lagi inovasi dalam bisnis Narkoba terus berkembang. Jenis baru selalu muncul dan UU yang ada selalu ketinggalan. Anehnya, pengendalinya malah banyak dari balik jeruji penjara.

Seharusnya penjara membuat penghuninya terbatas aksesnya ke dunia luar. Namun daya tarik bisnis ini yang bergelimang uang membutakan banyak orang. Tak heran, jaringannya membelit di mana-mana. Tak sedikit aparat yang tergoda, sifatnya bukan hanya membantu, malah menjadi pelaku utama.

Perang terhadap Narkoba mesti lebih serius, meski harus dalam koridor hukum. Pemberantasan dengan ala penembak misterius sebaiknya jangan sampai diterapkan lagi di Indonesia. Asalkan aparat konsisten maka ruang gerak sindikat Narkoba bisa dikunci, sama seperti kasus terorisme yang sudah bisa dipetakan.(**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments