Jumat, 17 Jul 2020

TAJUK RENCANA

Menginternetkan Desa

redaksisib Sabtu, 27 Juni 2020 11:02 WIB
gatra.com

Ilustrasi

Mewabahnya Covid-19 di seluruh dunia, khususnya di Indonesia telah memaksa masyarakat beraktivitas dan berkomunikasi lewat dunia maya (internet). Bahkan pegawai kantor pemerintah dan sebagian swasta terpaksa bekerja dari rumah (WFH) dengan memanfaatkan internet.

Akibatnya penggunaan internet terus meningkat drastis, bahkan di Indonesia peningkatannya tidak tanggung-tanggung dibanding sebelum Covid-19, mencapai 443 persen (sesuai data terbaru Kementerian Komunikasi dan Informasi).

Sayangnya, meskipun peningkatan penggunaan internet itu sangat luar biasa besarnya ternyata internet masih belum menjangkau seluruh pedesaan di Indonesia. Kelihatannya masih terbatas di kawasan perkotaan dan sebagian pedesaan/kelurahan yang sudah terjangkau jaringan internet.

Dari 83.993 desa (setingkat desa) di Indonesia, masih ada 12.548 desa (14 persen lebih) yang belum terjangkau internet. Desa-desa tersebut terdiri dari 9.113 desa/kelurahan di kawasan 3 T (daerah tertinggal, terdepan dan terluar). Sisanya 3.435 desa/kelurahan non 3 T.

Menurut Kominfo, di desa tersebut sebenarnya telepon dan sms sudah bisa, namun belum terjangkau jaringan 4G sehingga susah dan tidak bisa mengakses internet.

Mengingat kebutuhan internet masyarakat sudah sangat mendesak, maka pembangunan jaringan 4G di 12.548 desa itu diharapkan bisa segera direalisasikan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.

Dapat kita bayangkan berapa juta penduduk yang tinggal di 12.548 desa yang belum terjangkau internet itu. Padahal dalam berbagai aspek kehidupan di tengah pandemi Covid-19 ini, kebutuhan jaringan internet sangat vital, terutama sektor pendidikan, budaya, sosial, ibadah, ekonomi dan lainnya.

Apalagi di sektor pendidikan yang mengharuskan belajar daring, bagaimana anak-anak mau belajar tanpa internet? Demikian juga sektor ekonomi/pasar di pedesaan dan silaturahmi dengan keluarga dan kerabat yang tinggal terpisah dan jauh pasti terhambat akibat tidak terjangkau internet.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pasca Covid-19 ini, masyarakat akan memasuki kehidupan normal yang baru. Jangan keliru menafsirkan bahwa kehidupan normal baru itu akan kembali ke hidup normal seperti sebelum Covid-19. Normal baru itu hidup beradaptasi dengan kondisi baru, salah satu di antaranya yang mendesak adalah beradaptasi dan bertransformasi dengan kehidupan digital. Semua aspek kehidupan akan diwarnai teknologi digital, tentu dengan mengandalkan internet.

Bagaimana masyarakat desa menjalani kondisi kehidupan yang baru tanpa internet? Ada saja pun jaringan internet sebagian masyarakat tetap masih sulit beradaptasi, apalagi tidak ada. Mau tidak mau harus segera tersedia.

Jika tidak maka 12.548 desa/kelurahan yang belum bisa menjangkau internet itu bakal "terisolasi" sendiri. Sehingga mereka bakal membutuhkan biaya ekstra untuk bisa melanjutkan kehidupannya paska Covid-19 ini. Termasuk dalam melanjutkan pendidikan anak-anaknya, dengan terpaksa harus ke luar, ke desa yang bisa terjangkau internet.

Syukurlah pemerintahan Jokowi telah bertekad menuntaskan masalah internet di 12.548 desa ini hingga tahun 2022. Kita harapkan program pemerintah ini jangan sampai tertunda lagi, bahkan bila perlu dipercepat, sehingga keterlambatan dalam pemenuhan infrastruktur ini dapat segera teratasi. Sehingga semua wilayah dan desa bisa terkoneksi dengan jangkauan internet. (*)
T#gs Internettajuk rencana
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments