Jumat, 17 Jul 2020

FOKUS...

Menghempang Paham Radikal

redaksisib Minggu, 28 Juni 2020 10:51 WIB
tribunnews

Ilustrasi

Masyarakat harus hati-hati, masa pandemi Covid-19 selalu dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu. Paling sering terjadi terkait masalah ekonomi dan politik. Namun belakangan yang cukup mengkhawatirkan, masa pandemi dimanfaatkan kelompok teroris untuk mengembangkan "sayapnya".

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) baru-baru ini mengungkap, ada fenomena perekrutan anggota jaringan terorisme secara online di tengah pandemi virus corona (Covid-19). "Kelompok radikal masih aktif melaksanakan aksinya melalui propaganda perekrutan, baik secara online maupun offline selama masa pandemi Covid-19. BNPT mengkoordinasikan aparat penegak hukum yang ada," kata Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar dalam rapat dengan Komisi III DPR.

Boy tidak menjelaskan secara rinci kelompok radikal apa yang dimaksud. Ia juga menjelaskan hingga bulan ini ada 84 tersangka yang terkait dengan jaringan teror yang aksinya telah berhasil digagalkan aparat penegak hukum.

Memang saat sulit sekarang sangat mudah memberikan pemahaman yang salah kepada masyarakat. Kondisi kesulitan ekonomi paling rentan dipengaruhi dengan iming-iming materi. Selanjutnya disusupi pemahaman ideologi yang salah, dan berujung pemahaman radikal serta tindakan terorisme.

Apalagi penggunaan internet saat "stay at home" meningkat tajam, sehingga dunia maya sudah menjadi idola baru bagi masyarakat. Orang-orang yang selama ini jarang menggunakan internet, saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok baginya. Para remaja yang memang sudah "gila" di dunia maya, kini berselancar dengan bebas lepas karena alasan belajar lewat daring. Semua bebas bagai tanpa pengawasan.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan kelompok teroris untuk mengembangkan pengaruhnya, yang beberapa waktu lalu sudah terpepet dengan kegencaran aparat memberangusnya. Saat semua beralih perhatian untuk fokus menangani dan mencegah penyebaran virus corona, di saat itu pula kelompok teroris berusaha bangkit kembali.

Pemerintah melalui BNPT diharapkan secara aktif melawan paham radikalisme yang berbasis online. Hal ini dilakukan karena banyak penyebarluasan paham terorisme, intoleran dan radikalisme menghiasi ruang publik di dunia maya.

Ini adalah tugas BNPT bagaimana melakukan kontra radikalisme melawan informasi yang bertentangan dengan nilai dasar falsafah Pancasila, norma hukum, maupun nilai-nilai yang tidak patut seperti ujaran kebencian.

BNPT juga mengajukan usulan pengembangan organisasi dengan penambahan deputi dari 3 menjadi 6 deputi, yaitu Deputi Sistem dan Kebijakan, Deputi Kontra Radikalisme, Deputi Kesiapsiagaan Nasional, Deputi Bidang Deradikalisasi, Deputi Bidang Penegakan Hukum dan Pemantauan, serta Deputi Bidang Kerja Sama Internasional. BNPT juga akan membentuk Pusat Pengendalian Krisis (Pusdalsis) yang akan dilaporkan langsung kepada Presiden Jokowi.

Upaya yang tak kalah penting adalah pengawasan di lingkungan keluarga. Meski jaringan internet dan HP android sudah menjadi kebutuhan pokok, bukan berarti orangtua melepas bebas anaknya begitu saja beraktivitas. Untuk itu peran orangtua sangat penting dengan mengetahui aplikasi dan konten apa yang selalu dibuka putra-putrinya. Sehingga orangtua diwajibkan untuk paham teknologi agar tidak mudah dikelabui.

Selalu memerikan ruang diskusi kepada keluarga agar tidak ada celah bagi anak untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting. Kedekatan antar keluarga menjadi benteng masuknya paham-paham radikal dan sikap negatif lainnya.

Kekuatan pemerintah dalam menghempang paham radikal tidak akan berarti bila ketahanan dalam keluarga masyarakat Indonesia lemah. Untuk itu dibutuhkan sinergi yang kuat antara keduanya, sehingga kelompok teroris tidak bisa dengan mudah mempengaruhi masyarakat, khususnya para generasi muda. (***)
T#gs Paham Radikaltajuk rencana
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments