Jumat, 21 Feb 2020

Tajuk Rencana

Mengenang Reformasi

Selasa, 13 Mei 2014 14:18 WIB
Bulan Mei, selain dikenal sebagai hari buruh dan Hari Pendidikan Nasional, juga merupakan bulan yang bersejarah bagi perjalanan negeri ini. Bulan Mei tahun 1998, Indonesia mengalami perubahan sejarah yang amat dramatis, pelik dan bahkan terbilang tragis. Kekuasaan 32 tahun Suharto harus ditumbangkan mahasiswa dan elemen rakyat lain dengan "berdarah-darah".

Tragedi Trisakti, yang kemudian disusul Tragedi Semanggi, merupakan saksi bisu pergulatan sejarah yang mengharu-biru itu. Empat   mahasiswa Universitas Trisakti harus meregang nyawa diterjang panasnya peluru petugas keamanan kala itu. Karena itulah setiap tanggal 12 Mei diperingati untuk mengenang pengorbanan keempat "pahlawan" reformasi itu. Beruntung pengorbanan keempat mahasiswa itu membawa hasil sembilan hari kemudian. Suharto mengumumkan pengunduran dirinya dan meneruskan estafet pemerintahan kepada wakilnya, B.J. Habibie.

Dari sekian tuntutan Reformasi, beberapa diantaranya memang sudah berhasil dipenuhi. Menurunkan Suharto -walaupun belum berhasil diadili, menghapuskan dwifungsi ABRI, mengamandemen UUD 1945 dan melaksanakan otonomi daerah seluas-luasnya. Namun perjalanan untuk menegakkan supremasi hukum dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN, nampaknya masih jauh dari kata usai. Negeri ini mungkin telah berhasil melakukan reformasi lembaga dan sistem pemerintahan kendati pun reformasi kelembagaan itu harus diakui masih sebatas kulit-kulitnya saja, namun budaya, mental dan kinerja pengelola negara masih belum seperti yang diharapkan.  Lihatlah betapa menjamurnya Komisi-komisi yang harus dibentuk. Itu karena institusi pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini masih tumpuan publik untuk memberantas korupsi, itu karena lembaga penegak hukum -Polri dan kejaksaan, belum bisa terlalu diharapkan. Reformasi birokrasi yang dicanangkan untuk mewujudkan cita-cita Reformasi, ternyata harus diakui masih jalan di tempat. Reformasi birokrasi malah cuma sebatas renumerasi, bukan perubahan mental, budaya dan kinerja aparatur negara.  Uang yang digelontorkan untuk mewujudkan reformasi birokrasi memang tak kurang banyak, tapi hasil yang diharapkan boleh dibilang "jauh panggang dari api".

Reformasi memang harus disyukuri sebagai alam kebebasan, alam demokrasi dan alam pembangunan ke arah yang lebih baik. Tetapi harus diakui, tak sedikit masyarakat sekarang ini yang sudah lupa sejarah Reformasi, dan kenapa Reformasi harus terjadi. Bahkan tak sedikit pula masyarakat yang ingin kembali ke jamannya Suharto. Slogan bergambar Suharto "pie kabare, enak jamanku toh", hingga "Sindrom Aku Rindu Suharto" (SARS), kian  banyak mengisi ruang-ruang publik. Tak perlu menyalahkan sebagian kalangan yang ingin kembali ke masa lalu. Itu terjadi karena masa kini (Reformasi), tak berjalan sebagaimana mestinya.

Di tengah sebagian orang menikmati "kue" pembangunan, sebagian masyarakat (miskin) lainnya tak mendapat keadilan. Bahkan untuk makan sehari-hari terasa amat berat. Pemberantasan korupsi yang diharapkan menjadi awal perbaikan, masih jauh dari harapan. Yang dipertontonkan malah sebaliknya, korupsi kian merajalela dan hukum kian diperjualbelikan. Reformasi tentu tak hanya diperingati sebagai sejarah, terutama ketika mengenang tewasnya keempat mahasiswa trisakti. Tetapi reformasi harus diwujudkan hingga ke sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, begitulah cara kita mengenang apa yang namanya Reformasi.(##)

T#gs
Berita Terkait
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments