Sabtu, 04 Jul 2020
PalasBappeda

Tajuk

Mengekspresikan Cinta dengan Cara yang Benar

Jumat, 14 Februari 2020 11:28 WIB
kompasiana.com

Ilustrasi Ekspresi Cinta

Setuju atau tidak setuju, banyak orang di seluruh dunia termasuk Indonesia, merayakan Hari Valentine. Memang belum ada larangan terbuka, tetapi tak sedikit yang menolak acara yang di sebut-sebut "budaya asing" itu. Biasanya akan ada pemberian cokelat atau bunga kepada orang yang dikasihinya.

Sejarah Valentine ada beberapa versi. Pertama, kisah pendeta dari Roma bernama Valentine, yang memiliki akhir hidup tragis. Legenda ini menceritakan bahwa Valentine dipukuli dan berakhir dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi ini merupakan sebuah hukuman karena pendeta Valentine dianggap menentang kebijakan Kaisar Claudius II yang melarang pertunangan dan pernikahan.

Kedua, perayaan Valentine berasal dari Festival Lupercalia ini, sudah menjadi tradisi bangsa Romawi kuno yang tidak terlepas dengan hal-hal yang berbau seks. Konon ini sebagai pemujaan terhadap Dewa Kesuburan, dalam agama Romawi. Kebiasaan ini berlanjut dengan berbagai perubahan sesuai zamannya.

Entah versi mana yang benar, valentine selalu dirayakan dengan berbagai cara. Larangan dan penolakan ternyata tidak efektif menghentikan acara ini. Perayaan yang dilakukan diam-diam justru berpotensi "berbahaya".

Mengapa berbahaya, sebab persepsi tentang Valentine banyak melenceng. Banyak remaja dan kaum muda memaknainya sebagai kebebasan untuk berbuat apa saja dalam mengekspresikan kasih sayangnya. Cinta direduksi hanya sebagai hawa nafsu saja dalam bentuk seks bebas.

Alangkah baiknya jika remaja-remaja tersebut dirangkul dengan menjelaskan bagaimana ekspresi cinta yang sebenarnya. Mungkin saja ada kompromi, dengan mengizinkan perayaan valentine, tetapi harus dalam pengawasan orangtua. Makna cinta yang terlanjur salah, harus didefinisikan ulang ke "jalan" yang benar.

Cinta itu memiliki beberapa definisi berdasarkan tingkatan. Pertama, ada cinta bestiality, yang bersifat hewani. Cinta ini tak memiliki rasa malu dan mengekspresikannya tanpa etika dan rasa malu. Kedua, cinta eros, yang berdasarkan hawa nafsu, antara pria dan wanita. Ini hanya boleh dilakukan yang sudah suami istri.

Ketiga, cinta filia, yakni kasih sayang karena hubungan darah atau saudara. Ini antara ayah dengan anak, abang dan adik, yang masih satu keluarga. Ekspresinya adalah perhatian, dukungan dan perlindungan. Ini bisa dilakukan bukan hanya pada Valentine saja.

Terakhir, cinta agape, yakni kasih sayang tanpa syarat, yang tak mengharapkan imbalan. Seseorang memberi perhatian atau bantuan, tidak meminta orang lain membalasnya. Malah yang tak layak dikasihi, itu yang diberikan rasa cinta dengan tulus. Cinta agape ini merupakan level tertinggi dalam mengekspresikan kasih sayang.

Orangtua sebaiknya terlibat dalam perayaan Valentine. Sekolah tak boleh lepas tangan dengan dalih kegiatan tersebut di luar jam belajar. Guru bersama orangtua mesti berada di garis terdepan dalam memberi makna baru Valentine, sebagai ekspresi persahabatan dan bukan dengan seks bebas.

Para remaja jangan tergoda merayakan Valentine dengan hura-hura dan pergaulan bebas. Ingat seks itu sakral dan hanya sah dalam lembaga pernikahan. Ekspresikan cintamu dengan cara yang benar, dan bukan sesaat yang akan membawa penyesalan seumur hidup. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments