Rabu, 23 Jan 2019

Mengapresiasi Satgas Antimafia Bola

admin Rabu, 09 Januari 2019 14:32 WIB
Citra sepakbola Indonesia sedang terpuruk. Setelah beberapa kali dibantah dan disangkal, akhirnya para pemain yang terlibat pengaturan skor pertandingan, satu persatu diungkap dan ditangkap. Kerja keras Satgas Antimafia Bola membuahkan hasil dan diharapkan tak berhenti sampai dalang utamanya diseret ke pengadilan.

Pengaturan skor sebenarnya bukan hal baru dalam dunia sepakbola. Pihak yang mengaturnya kadangkala bukanlah kesebelasan yang ingin menang. Lebih sering mafia yang bermain demi kepentingan sindikat judi bola yang kabarnya taruhannya gila-gilaan.

Para pejudi menjadikan pertandingan bola sebagai ajang taruhan. Makin seru dan bergengsi sebuah kompetisi, maka uang beredar bisa ratusan juta hingga miliaran. Nah, pihak yang ikut ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya akan berusaha mengatur skor.
Modus pengaturan skor sangat beragam. Mafia akan menyuap siapa saja yang dianggap bisa menentukan skor. Sasarannya bisa wasit, pelatih, manajer klub, hingga pemain. Penyuapan bisa ke beberapa orang saja yang berpengaruh, tetapi bisa ke semua yang dianggap berperan.

Begitu licinnya mafia bola ini, pengaturan skor ini sudah berlangsung lama. Najwa Shihab yang mengasuh acara Mata Najwa sudah beberapa kali menyorotnya dan mewawancarai beberapa saksi. Namun, untuk mengungkapnya terkesan lamban dan berbelit, seolah ada kekuatan besar menghalanginya.

Begitu rapinya pengaturan skor ini, memang sulit mengungkapnya. Apalagi ada bantahan dari banyak pihak yang menyebutkan tidak benar ada mafia bola. Untung Satgas Antimafia Bola tak terpengaruh dan kerja keras mereka akhirnya terbayar.

Polisi sebelumnya telah menangkap empat orang tersangka. Mereka adalah anggota Komisi Eksekutif Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Johar Lin Eng, mantan anggota Komite Wasit PSSI Priyanto dan putrinya, Anik Yuni Artika Sari, serta anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih. Terakhir ditangkap Nurul Safarid, wasit pertandingan Liga Tiga Indonesia antara Persibara Banjarnegara melawan Persekabpas Pasuruan yang digelar pada Oktober 2018 lalu.

Prestasi Satgas Antimafia Bola patut diapresiasi. Mereka harus didukung agar berani dan serius mengungkap kasus dan pelaku yang berperan mengatur skor. Memang masih perlu kerja keras lagi membersihkan dunia sepakbola Indonesia.

Kita berharap seiring pembersihan mafia, maka prestasi sepakbola Indonesia makin meningkat. Sebab pertandingan akan berlangsung fair dan sportif. Lalu kompetisi yang sehat akan memunculkan pemain yang hebat untuk timnas yang mampu berbicara di level internasional. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments