Kamis, 21 Nov 2019

Mengapa Harus Tol Medan-Berastagi

Kamis, 15 November 2018 10:59 WIB
Setiap akhir pekan, di Sabtu dan Minggu, serta hari libur, jalan raya yang menghubungkan Medan-Berastagi pasti padat. Satu insiden saja, seperti kecelakaan, maka dalam hitungan menit, bakal macet berkilometer. Pernah terjadi, karena truk membawa alat berat terguling, lumpuh hingga lebih satu hari.

Apabila jalan utama macet atau lumpuh, pilihan alternatif sangat terbatas dan tidak menyelesaikan masalah. Hanya ada dua, jika Pancur Batu terkendala, bisa masuk dari arah Kebun Binatang, Simalingkar B. Kemudian, menghindari Berastagi dan Kabanjahe, pilihan bisa melalui Tongkoh, keluar di Tiga Panah.

Kondisi jalan alternatif ini sangat memprihatinkan. Selain sempit dan hanya bisa dilalui mobil kecil, beberapa ruas jalan rusak parah. Alhasil, truk besar tak bisa bergerak selain dari jalur utama. Rambu jalan sebagai petunjuk pun sangat terbatas.

Saat macet, Medan Berastagi yang sebenarnya bisa ditempuh dalam dua jam, bisa menjadi horor puluhan jam. Dalam jangka panjang membuat pengguna jalan raya trauma. Wisatawan berpikir ulang untuk berlibur di Tanah Karo Simalem ini.

Belum lagi jika musim hujan datang. Pengguna jalan raya mesti ekstra hati-hati. Kiri kanan ada jurang dan tebing, semuanya rawan longsor. Anggaran sudah sangat banyak untuk memperbaiki jalan longsor. Meski begitu, tetap saja masih ada ancaman longsor.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran pengguna jalan raya. Ada armada tertentu yang sering ugal-ugalan dan suka main serobot. Masalah menjadi kompleks dan menjadi kampanye buruk bagi Tanah Karo. Orang menjadi enggan ke sana, jika tak terpaksa, tidak akan berkunjung.

Kita memahami tak mudah membangun jalan tol. Diperlukan persiapan yang matang, dari sisi kelayakan dan anggaran yang bakal digunakan membangun. Soal dana sebenarnya masih ada cara dengan menawarkan ke swasta.

Diharapkan pemangku kepentingan jangan terus pesimis, seolah takkan ada investor yang tertarik. Sebaiknya lakukan kajian dan tawarkan ke pihak ketiga. Apalagi sebenarnya bukan hanya Tanah Karo yang memerlukan. Warga Dairi, Pakpak Bharat, Aceh Tenggara dan Aceh Selatan pun menggunakan akses jalan yang sama.

Diharapkan DPRD Sumut serius memperjuangkan aspirasi membangun tol Medan-Berastagi. Lakukan segenap daya upaya agar bisa direalisasikan sesegera mungkin. Warga pun harus mendukung dan memberi pernyataan takkan mempersulit upaya pembebasan tanah. (**)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments