Senin, 16 Sep 2019

Mengangkat Kopi Indonesia ke Dunia Internasional

admin Minggu, 28 April 2019 13:55 WIB
Kopi Indonesia makin populer di dalam negeri. Di Kota Medan saja, hampir setiap minggu ada saja cafe kopi yang buka. Penggemarnya selalu ada dan menjadi indikasi berkembangnya pasar di dalam negeri.

Namun mengandalkan pasar dalam negeri saja tidak memadai. Itu sebabnya upaya membuka pasar baru di luar negeri terus dilakukan. Tentu saja kualitas harus dijaga dan terus ditingkatkan.

Kopi jenis arabika merupakan komoditas ekspor yang sangat diminati pasar dunia. Sayangnya, Sebagian besar petani di Indonesia lebih suka menanam kopi jenis robusta. Alasannya, karena jenis robusta sangat laku di dalam negeri.

Namun untuk pasar Eropa, justru sebaliknya, mereka sangat menyukai kopi jenis arabika. Berdasarkan data Kementan, tercatat sebanyak 59 kabupaten kota yang tersebar di 16 provinsi sebagai daerah sentra kopi yang didominasi oleh pengembangan kopi robusta untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk pemerintah melakukan berbagai strategi untuk mengembangkan kopi berbasis kawasan dengan meningkatkan produksi kopi arabika.

Petani kopi robusta perlu dimotivasi untuk beralih menanam kopi arabika di daerah yang iklimnya cocok. Meski begitu, tidak perlu semua daerah sentra kopi robusta dipaksakan berganti dengan pengembangan kopi arabika. Sebab pengembangan kopi komoditas ekspor tersebut hanya bisa ditanam di lahan-lahan dataran tinggi.

Pengembangan kopi arabika diarahkan untuk menjaga posisi Indonesia sebagai sumber penting beberapa jenis kopi kelas dunia. Apalagi faktor geografis yang sangat menunjang untuk dikembangkan. Indonesia tercatat memiliki kopi yang beragam dan kopi Indonesia merupakan kopi terbaik dunia. Tahun 2016 tercatat total produksi kopi nasional mencapai 639.000 ton dan kopi robusta mendominasi sebesar 90 persen dari total produksi nasional dan sisanya kopi arabika hanya 10 persen.

Indonesia termasuk lima besar negara pengekspor kopi terbesar di dunia, bersama dengan Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Vietnam. Sayangnya, masih lemah dalam industri hilir. Merek asal Indonesia masih sangat minim dan belum ada yang mendunia. Meski varietasnya disebut asal Indonesia, namun produsennya masih kebanyakan dari luar.

Petani Indonesia tak hanya fokus pada sektor budidaya kopi. Namun, proses bisnis pengolahan kopi merupakan hal utama yang harus diperhatikan. Apabila proses bisnis pengolahan kopi berhasil, maka harga biji kopi petani pun akan ikut membaik. Metode penjualannya pun, juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman yakni dengan memanfaatkan teknologi masa kini.

Kualitas kopi lokal mesti ditingkatkan. Mulai dari penanaman, panen, dan pascapanen mesti mendapat perhatian. Kopi Indonesia diharapkan makin dikenal di pasar internasional, yang tentu saja akan membawa kesejahteraan bagi petaninya. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments