Kamis, 21 Nov 2019

Mendorong 'Orang Baik' ke PSSI

redaksi Jumat, 01 November 2019 12:39 WIB
Besok, Komite Pemilihan PSSI yang dipimpin Syarif Bastaman akan menggelar Kongres Luar Biasa di Hotel Shangri-la, Jakarta. Sebelumnya PSSI telah menggelar KLB PSSI pada 27 Juli lalu di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Saat itu dibahas tiga agenda utama, yakni pengesahan revisi statuta PSSI, pengesahan revisi kode pemilihan PSSI, dan memilih anggota baru untuk Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP).

Harusnya kongres akan digelar Januari 2020. Agendanya untuk memilih 15 Komite Eksekutif PSSI yang terdiri dari Ketua Umum dan dua Wakil Ketua Umum, serta 12 anggota. Komite Eksekutif baru yang terpilih akan bekerja untuk empat tahun periode sampai tahun 2024. PSSI kemudian memajukan lagi waktu kongres pemilihan menjadi 2 November 2019 yang secara otomatis mengubah status menjadi Kongres Luar Biasa (KLB).

Padahal sebelumnya, PSSI bersama FIFA dan AFC sepakat tentang pelaksanaan kongres pemilihan ketua umum, wakil ketua umum dan anggota eksekutif PSSI pada Januari 2020. Berdalih adanya perkembangan dinamika organisasi, serta banyak desakan untuk memajukan kongres, PSSI melalui rapat exco pada Kongres Luar Biasa di Ancol pada 27 Juli 2019, akhirnya diputuskan untuk memajukan kongres. Meski begitu, FIFA dan AFC disebut telah merestui pelaksanaan KLB.

FIFA bakal mengirimkan dua delegasi dan AFC tiga delegasi untuk hadir di kongres luar biasa. Mereka memantau dan mengawasi jalannya KLB dengan agenda pemulihan ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI. Jadi, secara legitimasi KLB PSSI 2019 cukup kuat.

Dalam Statuta PSSI Tahun 2019 disebutkan kongres merupakan badan pemegang kewenangan tertinggi dan badan legistlatif di PSSI. Hanya kongres yang diadakan secara berkala saja yang berwenang membuat keputusan-keputusan. Untuk bentuk kongres itu terdiri dari Kongres Biasa dan KLB PSSI. Penjelasan hal ini tertuang dalam pasal 34 Statuta PSSI.

Kita berharap KLB PSSI mengakhiri kemelut dunia persepakbolaan di Indonesia. Hanya perlu dicatat, terpilihnya ketua baru bukanlah akhir segalanya. Kinerjanya yang akan menentukan masa depan sepak bola di Tanah Air.

Mafia bola yang selama ini mengatur pertandingan, harus segera diberantas. Sebenarnya bagi pengurus baru sudah terbuka "jalan". Sebab polisi telah menggulung beberapa sindikatnya, tinggal membersihkan yang tersisa.

Bukan rahasia lagi, mafia bisa eksis sebab ada pengurus yang bermain mata. Itu sebabnya integritas harus menjadi kriteria utama dalam memilih ketua baru. Walau wawasan dan komitmen pengurus soal bola juga penting.

Presiden Jokowi secara eksplisit telah menugaskan Menpora segera mengurus masalah bola. Walau tak bisa intervensi, pemerintah harus mendorong orang-orang "baik" masuk menjadi pengurus PSSI. Selamat ber-KLB dan menghasilkan yang terbaik. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments