Minggu, 08 Des 2019

Menangani Stunting di Tahun Politik

Minggu, 23 September 2018 11:17 WIB
Stunting masih akan menjadi persoalan Indonesia dan masyarakat internasional. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2016 menunjukkan, sebanyak 22,9% atau 154,8 juta anak di dunia menderita stunting. 

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Berdasarkan perhitungan Bappenas, potensi kerugian nasional akibat stunting bisa mencapai 2-3% dari produk domestik bruto atau sekitar Rp 300 triliun pada 2017. Di Indonesia, pada 2013 prevalensi stunting mencapai 37% atau diderita sekitar 9 juta anak, lalu menurun menjadi 29,6% pada 2017. Berdasarkan pemantauan status gizi (PSG) pada 2017, hanya dua provinsi, yakni Yogyakarta dan Bali yang prevalensi stunting-nya di atas standar WHO.

Prevalensi stunting di Yogyakarta mencapai 19,8% dan Bali 19,1%. Provinsi lain berada di bawah standar WHO. Bahkan, ada provinsi yang prevalensi stunting-nya jauh di bawah standar WHO karena mencapai 40 persen.  Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 juga menyebutkan kondisi konsumsi makanan ibu hamil dan balita pada 2016-2017 menunjukkan 1 dari 5 ibu hamil kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 balita kurang kalori, serta 5 dari 10 balita kurang protein.

Tak heran bila Indonesia tercatat sebagai negara nomor empat dengan angka stunting tertinggi di dunia. Harus ada tindakan drastis dan terencana, agar anak-anak Indonesia bebas stunting. Tidak lagi terlihat anak yang pertumbuhannya kerdil dan lamban, akibat kurang gizi.

Pemerintah telah menetapkan lima pilar penting penanganan stunting tersebut yaitu komitmen, kampanye, konvergensi program, akses pangan bergizi dan monitoring progam. Sebagai wujud komitmen, Presiden Jokowi sendiri yang memimpin rapat membahas masalah ini secara nasional. Pilar kedua yaitu kampanye yang berisi konsolidasi dan edukasi bagi semua pihak yang terlibat.

Pilar ketiga adalah konvergensi. Sebenarnya sudah banyak kementerian dan lembaga yang melakukan berbagai program untuk mengentaskan stunting. Namun program-program tersebut belum terintegrasi dengan baik. Masing-masing jalan  sendiri, sehingga harus disinkronkan agar terkoordinir dan tepat sasaran.

Pilar keempat yaitu akses pangan bergizi. Hal ini sudah dilakukan antara lain dengan pembagian vitamin, pemberian makanan tambahan dan layanan kesehatan bagi ibu hamil. Pilar kelima adalah monitoring dan evaluasi. Sebab sebaik apapun program, tanpa adanya umpan balik, takkan diketahui ada kekurangan dan perbaikan ke depan.

Diharapkan masalah stunting bisa segera dituntaskan.  Semua elemen harus terlibat dan berpartisipasi aktif. Hiruk pikuk tahun politik tak boleh mengalihkan fokus. Sebab stunting merupakan ganjalan serius bagi masa depan bangsa ini. (**)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments