Minggu, 18 Agu 2019

Memerangi Demam Berdarah

admin Minggu, 27 Januari 2019 12:45 WIB
Kementerian Kesehatan mewaspadakan sejumlah daerah di Indonesia mengalami peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan data Kejadian Luar Biasa (KLB) dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, ada 584 kasus DBD pada 2018 yang dilaporkan dari enam provinsi dan delapan kabupaten-kota. Kota Medan sendiri masih memiliki daerah endemis dan selalu ada pasien DBD yang dirujuk ke rumah sakit.

Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan curah hujan dan perubahan iklim menjadi waktu tepat bagi nyamuk untuk berkembang biak. Itu sebabnya sebagai negara tropis, Indonesia sangat potensial untuk berkembangnya penyakit DBD.

Gejala awal DBD kerap disalahartikan sebagai gejala flu atau infeksi virus ringan pada umumnya. Anak- anak dan seseorang yang belum pernah terinfeksi sebelumnya cenderung mengalami gejala yang lebih ringan daripada orang dewasa atau mereka yang pernah terjangkit. Namun, masalah dapat berkembang menjadi lebih serius.

Penderita DBD akan mulai mengalami komplikasi. Antara lain demam tinggi, kerusakan pada getah bening dan pembuluh darah, pendarahan dari hidung dan gusi, pembesaran hati, serta kegagalan sistem peredaran darah. Gejala-gejala ini bisa berkembang menjadi pendarahan hebat yang disebut dengue shock syndrome (DSS).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan Indonesia merupakan negara kedua dengan kasus DBD terbesar di antara 30 negara wilayah endemis. Jumlah kasus DBD memang mengalami fluktuasi di Tanah Air. Pada 2014, jumlah kasus DBD di 34 provinsi mencapai 100.347. Setahun berselang, angka itu meningkat menjadi 126.675 kasus pada 2015.

Pada 2016, jumlah kasus DBD kembali melonjak menjadi 204.171 kasus. Namun, pada 2017 jumlah itu menurun signifikan menjadi 68.407 kasus. Pada 2017, jumlah kasus tertinggi terjadi di tiga provinsi Pulau Jawa dengan masing-masing Jawa Barat sebanyak 10.016 kasus, Jawa Timur 7.838 kasus, dan Jawa Tengah 7.400 kasus. Jumlah kasus terendah terjadi di Provinsi Maluku Utara dengan 37 kasus.

Jumlah kematian akibat DBD pada 2017 juga menurun signifikan menjadi 493 kematian dari sebelumnya 1.598 kematian. Dalam 10 tahun terakhir, angka pesakitan juga mengalami fluktuasi. Dari 2008 hingga 2010 cenderung tinggi rata-rata di angka 60 per 100 ribu penduduk, lalu mengalami penurunan drastis pada 2011 sebanyak 27,67 per 100 ribu penduduk.

Setelah itu, kecenderungan tren meningkat sampai 2016 menjadi 78,85 per 100 ribu penduduk dan kembali turun pada 2017 menjadi 26,12 per 100 ribu penduduk. Di seluruh dunia, diperkirakan ada 390 juta kasus infeksi dengue setiap tahunnya. Sekitar 96 juta di antaranya berujung dengan penyakit DBD.

Indonesia mesti tetap memerangi penyakit DBD ini. Pengasapan (fogging) ternyata tidak efektif lagi. Bagaimana membasmi jentik sebelum berkembang menjadi nyamuk, jauh lebih penting. Itu sebabnya gerakan masyarakat yang lahir dari kesadaran sendiri perlu ditumbuhkan.(**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments