Sabtu, 19 Sep 2020

Memberantas Mafia

Jumat, 12 September 2014 10:46 WIB
Pemberantasan mafia sedang intens dilakukan. Berbagai sindikat mafia kini sedang dibidik pemerintah. Memang, negara ini bagai negara mafia. Ada mafia minyak, mafia tambang, mafia pajak, mafia TKI, mafia hukum, mafia impor serta berbagai mafia lainnya. Masyarakat pun sudah semakin kerap menggunakan istilah ini.

Sederhananya mafia adalah kelompok pelaku kejahatan yang teroganisir dan menempuh segala cara untuk mencapai tujuannya. Mafia muncul biasanya karena ada kepentingan ekonomi dan bisnis yang melatarbelakanginya. Keuntungan itulah yang menyebabkan para pelakunya kemudian mengorganisir diri.

Di negara ini, sudah lama diketahui bahwa penyelewengan uang negara amat mudah dilakukan. Melihat potensi tersebut, maka mafia pun tumbuh subur melancarkan aksinya untuk semakin menggerogoti uang negara. Salah satu yang kini sering disebut  adalah mafia minyak. Dipicu oleh keheranan publik atas tingginya harga minyak, maka publik pun kini mengerti bagaimana tangan-tangan mafia minyak bercokol di negeri ini. Minyak yang dibeli dari Afrika dan Arab ternyata kemudian diimpor secara terbatas hanya oleh lima perusahaan. Minyak tersebut kemudian juga tidak diolah di Indonesia, melainkan dibawa terlebih dahulu ke Singapura. Dari sana, barulah yang namanya BBM siap jual dibawa ke Indonesia.

Begitu hebatnya peranan mafia, sampai sekarang kita tidak pernah mengubah metode impor dan menurunkan harganya. Mafia minyak berhasil menelikung kebijakan sehingga bertahun-tahun lamanya tidak seorang pun mempertanyakan kebijakan tanpa teknologi yang diterapkan oleh Indonesia; juga tidak mempertanyakan mengapa upaya mengimpor minyak itu dimonopoli oleh Petral, perusahaan milik Pertamina, milik Indonesia, yang justru berkantor di Singapura; juga tidak mempertanyakan mengapa hanya ada lima saja perusahaan yang diberikan izin melakukan aktivitas impor minyak.

Ambil contoh mudah lain. Barusan saja KPK dan BNP2TKI  melakukan penghentian aktivitas terminal khusus TKI. Sebelumnya terminal itu digunakan untuk "menyambut" para TKI yang baru pulang dari luar negeri. Tapi ternyata terminal itu juga digunakan oleh mafia untuk memeras TKI dengan berbagai alasan, sampai kemudian KPK melakukan sidak. Tidak seorang pun pernah memertanyakan mengapa terminal tersebut bisa tetap berdiri meskipun kegunaannya tidak ada; juga tidak ada yang memertanyakan mengapa para oknum aparat negara di sana bukannya membela, malah membiarkan pelanggaran terjadi.

Begitulah mafia. Tidak ada lagi yang memertanyakan keberadaannya karena dianggap sebagai suatu kebenaran. Maka tidak heran, Wali Kota Medan memertanyakan bagaimana mungkin uang-uang pajak dari perparkiran di Kota Medan ini bisa tidak terdeteksi keberadaannya. Selama ini untuk kendaraan roda dua ketetapan parkirnya adalah Rp 300 sementara roda empat adalah Rp 1000. Tetapi mafia parkir di Kota Medan menjadikannya jauh melebihi itu. Sampai kemudian tak seorang pun memertanyakannya lagi, karena dianggap hal yang sudah biasa.

Mafia sungguh lihai. Mafia sesungguhnya bisa terjadi karena ada kelihaian orang dalam birokrasi, yang bermain mata dengan para pengusaha atau pemodal, dan mempermainkan penegak hukum. Bekerjanya tiga elemen ini menyebabkan negara kita menjadi negeri mafia alias para mafioso.

Pemerintahan yang akan datang bertekad mengatasi ini. Kita tunggu gebrakannya. Meski tidak mudah, namun semangat melawan mafia masih ada ternyata. (***)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments