Rabu, 23 Okt 2019

Membangun Budaya Dialog

admin Minggu, 29 September 2019 10:13 WIB
Sudah sejak lama bangsa Indonesia dicitrakan sebagai orang yang santun dan ramah. Sejarah dan berbagai buku menuliskan tentang budaya yang diwariskan secara turun temurun. Itu kemudian yang "dijual" kepada wisatawan asing. Mereka yang berkunjung ke Nusantara akan seperti rumah kedua, dan disambut dengan baik.

Citra sebagai bangsa yang santun dan ramah itu kini kian memudar. Apalagi dengan sikap yang dipertontonkan pengunjuk rasa beberapa tahun terakhir, sangat jauh dari santun dan keramahan. Sebagian besar pendemo menampilkan ucapan yang sarkas, sikap yang kasar dan bahkan anarkis.

Perbedaan pendapat seolah menjadi alasan melakukan kekerasan. Walau tidak semua dimulai dari demonstran, ada memang yang dipicu faktor lain. Antara lain, sikap aparat keamanan yang represif, objek unjuk rasa yang tidak kooperatif, dan adanya provokasi dari pihak tertentu.

Saat terjadi bentrokan, perusakan fasilitas publik, dan kekerasan verbal, tak ada lagi tampak bangsa ini santun dan ramah. Sebaliknya yang ditunjukkan bangsa ini pemarah. Apabila sedikit saja keinginannya tak dipenuhi, maka menjelma menjadi "monster" bagi sesamanya.

Jadi teringat dengan lirik lagu Ebiet G Ade, "ke mana sirnanya nurani embun pagi, yang biasanya ramah, kini membakar hati." Bangsa yang ramah dan santun bisa sirna suatu saat, apabila kekerasan atas nama aspirasi tak dihentikan. Publik tak boleh hanya menyalahkan aparat dan pemerintah atas kisruh yang terjadi saat unjuk rasa.

Saatnya menggugah kesadaran kolektif atas budaya kekerasan yang kini melanda orang dewasa, pemuda, remaja, dan anak-anak bangsa. Mari serukan "pertobatan sosial", untuk kembali merevitalisasi nilai-nilai luhur yang diwarisi dari nenek moyang. Bangsa Indonesia adalah orang yang mampu menyelesaikan perbedaan pendapat secara dialogi, dalam suasana yang ramah dan santun.

Keluarga, lembaga pendidikan dan agama harus berada di garis terdepan untuk membangun kembali budaya dialog yang ramah dan santun tersebut. Hilangkan budaya kekerasan dan otoriter sejak dini. Nilai-nilai demokrasi mesti ditanamkan sejak dini, dengan memberikan keleluasan bagi anak menyampaikan pendapat.

Perbedaan pendapat bukanlah dosa, jadi tak perlu ditakuti. Silakan saja berbeda pendapat dengan argumen masing-masing, sepanjang tidak menyangkut hal-hal yang prinsipil. Misalnya kesepakatan tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, tak bisa ditawar-tawar lagi.

Radikalisme dan intoleransi jangan lagi diberi ruang di bumi Indonesia. Aparat dan negara mesti tegas terhadap mereka dengan menggunakan perangkat hukum yang ada. Sebaliknya mari bersama-sama membudayakan kembali dialog dalam menyelesaikan masalah dan perbedaan. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments