Rabu, 13 Nov 2019

Memanfaatkan Budaya Lokal untuk Literasi

admin Senin, 09 September 2019 13:53 WIB
United Nations Educational, Scientific Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan setiap 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (HAI). Tahun ini secara internasional mengangkat tema "Literacy and Multilingualism." Kemendikbud menetapkan tema nasional "Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat".

Buta aksara diharapkan bisa dientaskan lewat pendekatan budaya masing-masing daerah. Sebab Indonesia memiliki budaya dan bahasa yang begitu beragam dengan keunikan masing-masing. Semuanya bisa digunakan untuk mendukung literasi, sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Hal yang membanggakan pada peringatan HAI karena Indonesia menjadi negara percontohan pemberantasan buta huruf. Memang angka buta aksara berkurang secara signifikan dalam lima tahun terakhir. Ada sekitar 1,9 juta orang yang berhasil bebas dari buta aksara.

Saat ini Indonesia telah mencapai angka literasi mencapai di atas 98 persen. Pada awal kemerdekaan, saat dicanangkannya gerakan pemberantasan buta huruf, kondisi penduduk Indonesia 97 persen buta aksara. Tentu tidak dalam satu malam, melainkan dalam rangkaian waktu yang panjang, hingga hari ini.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (BPS), angka buta aksara di Indonesia memang turun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2017 jumlah penduduk buta aksara mencapai 3,4 juta jiwa. Pada 2018 turun menjadi 3,29 juta orang atau 1,93 persen dari total populasi penduduk.

Kemendikbud mempunyai berbagai program untuk mengentaskan buta aksara. Program tersebut tidak hanya sebatas mengajarkan baca tulis, namun juga dilaksanakan program lanjutan. Antara lain, Program Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) dan Program Pendidikan Multikeaksaraan.

Program Multikeaksaraan berorientasi pada pemeliharaan keberaksaraan dengan fokus pada literasi dasar. Antara lain, literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan. Jadi, tujuan melek dasar bukan hanya sekadar bisa baca tulis.

Program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) berorientasi pada pemberdayaan peserta didik ke sektor usaha mandiri sambil memberi materi pelajaran seputar usaha atau kegiatan mereka. Mereka bekerja sebagai nelayan atau petani diberi materi-materi pembelajaran terkait aktivitasnya. Dengan demikian bisa meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya bermuara pada membaiknya kesejahteraan.

Pesan penting HAI adalah perlunya penguatan budaya lokal dalam literasi. Mari manfaatkan hal yang baik dari warisan leluhur untuk meningkatkan derajat bangsa. Tahun depan diharapkan bisa mendekati angka seratus persen. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments