Selasa, 11 Agu 2020

FOKUS ......

Memaknai Hari Anak Nasional

redaksisib Minggu, 26 Juli 2020 10:04 WIB
sesawi.net

Ilustrasi

Anak adalah anugerah Tuhan dan masa depan bagi suatu keluarga, juga bagi suatu negara. Bahkan bagi orang Batak, selain masa depan penerus keluarga, anak adalah kekayaan. Sehingga ada satu lagu yang fenomenal hingga saat ini, yaitu "Anakkonhi Do Hamoraon di Au" yang artinya "Anakku adalah kekayaanku".

Maknanya juga sangat terasa dalam. Kenyataannya memang orang Batak "mati-matian" untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya supaya kehidupannya kelak lebih baik dari orangtuanya. Anak yang sudah berhasil biasanya akan menjadi penopang dan penuntun bagi saudaranya dalam satu keluarga. Sehingga selain sebagai kebanggaan, keberhasilan anak adalah suatu kehormatan dan sekaligus kekayaan bagi orangtuanya.

Itulah sebabnya jika anak rusak maka bakal rusaklah masa depan keluarga dan negara, demikian juga sebaliknya. Oleh sebab itu maka sejak di kandungan hingga lahir, anak harus dilindungi dan dirawat dengan baik hingga lahir dan bertumbuh. Tidak hanya diberi makanan jasmani tetapi juga rohani dan kasih sayang.

Negara dan pemerintah juga menyadari hal itu, sehingga untuk melindungi anak bukan hanya urusan orangtua lagi tetapi juga urusan negara dan pemerintah. Apalagi hampir 30,1 persen penduduk Indonesia atau 79,5 juta jiwa adalah anak-anak. Sehingga tugas Kementerian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang saat ini dipimpin Menteri I Gusti Ayu Bintang Darmavati sangat urgen apalagi menuju Tahun 2045 Indonesia Emas.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan pemerintah adalah dengan tetap mengingatkan masyarakat pentingnya masa depan dan perlindungan anak dari kekerasan melalui peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang ditetapkan tanggal 23 Juli setiap tahunnya.
Namun meskipun perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap anak cukup tinggi tetapi kasus kekerasan anak di Indonesia masih tetap tinggi. Dalam enam bulan saja (Januari-Juni 2020) terdapat 3.928 kasus kekerasan anak. Ada kasus kekerasan seksual, kekerasan fisik maupun emosional, namun hampir 55 persen di antaranya kekerasan seksual.

Bahkan berdasarkan survei nasional, 2 dari 3 anak Indonesia berusia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan. Data-data ini masih bersifat laporan. Artinya jumlah kasus yang terjadi secara real dapat jauh lebih banyak.

Memang sungguh memprihatinkan kalau masa anak-anak yang seharusnya masa menyenangkan harus mereka lalui dengan kekerasan dan eksploitasi. Apalagi kalau yang melakukan kekerasan dan eksploitasi itu adalah keluarga atau orangtuanya sendiri.
Tidak perlu jauh-jauh melihat ke daerah lain tetapi sangat nyata terlihat di kota Medan yang kita cintai ini. Di beberapa persimpangan jalan "traffic light" ada saja anak-anak kecil yang dieksploitasi untuk berjualan dan meminta-minta. Bahkan anak-anak yang masih bayi juga dibawa-bawa untuk menggugah pengendara yang berhenti agar memberi sedekah.

Seharusnya anak-anak kecil peminta-minta itu waktunya sekolah dan bermain. Demikian juga anak baby itu seharusnya masih dalam perawatan di rumah untuk menjamin kesehatan dan pertumbuhannya. Namun hampir setiap hari mereka dieksploitasi di depan mata kita dengan meminta-minta. Sepintas sepertinya mereka tidak merasakan kehadiran pemerintah dalam kesulitan mereka. Namun bisa saja pemerintah sudah perduli tetapi mereka malah menginginkan kehidupan seperti itu sehingga kepedulian pemerintah diabaikannya.

Padahal sebagai anak maka ada 4 hak dasar yang harus dipenuhi yaitu hak untuk hidup, hak untuk berkembang, hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan, eksploitasi dan hak partisipasi. Anak memiliki hak itu, tetapi kenyatannya masih banyak yang belum memilikinya, bahkan mengalami kekerasan.

Mengharapkan pemerintah sepenuhnya untuk melindungi anak dari kekerasan kelihatannya hal mustahil. Apalagi kejadiannya sering tersembunyi dan tertutupi khususnya kekerasan dan ekspoitasi yang dilakukan keluarga sendiri. Oleh sebab itu maka untuk meminimalkan kekerasan terhadap anak perlu kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.

Syukurlah bahwa dalam lima tahun ke depan ini, pemerintah akan memprioritaskan penurunan kekerasan terhadap anak sebagaimana dikemukakan Menteri PPA baru-baru ini. Tidak lagi hanya mencegah terjadinya kekerasan tetapi Kementerian PPA juga akan menyediakan layanan rujukan akhir bagi anak korban kekerasan. Sehingga diharapkan akan tercipta sistem yang ramah terhadap anak sebagaimana diamanatkan Perpres No.65 tahun 2020.

Anak adalah masa depan kita. Cintailah anak. Jangan sampai orangtua menjadi pelaku kekerasan terhadap anak. Hindari dan cegah lah kekerasan terhadap anak. (*)
T#gs Hari Anak NasionalFOKUStajuk rencana
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments