Sabtu, 15 Agu 2020

TAJUK RENCANA

Melawan Hoaks Menyangkut Covid-19

redaksisib Rabu, 29 Juli 2020 10:34 WIB
tribunnews

Ilustrasi

Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bahkan hingga saat ini jumlah warga positif terus mengalami peningkatan. Kasus positif Covid di Indonesia melebihi negara asal virus China dan hampir menyamai persentase rata-rata dunia.

Begitu juga di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan. Jumlah positif Covid meningkat tajam, sehingga ruang khusus pasien di rumah sakit rujukan penuh. Karena dikabarkan, saat ini perkantoran menjadi tempat berkembangnya virus dengan sangat cepat.

Pekan lalu, puluhan karyawan salah satu bank ternama di Kota Medan serentak masuk rumah sakit karena positif Covid-19.

Pekan lalu juga, kampus ternama di daerah ini, USU melakukan lockdown, setelah Rektor dan beberapa pejabat tinggi lainnya dinyatakan positif. Menyusul kemudian salah seorang dosen muda meninggal dunia, setelah 4 hari dirawat di rumah sakit.

Tampaknya kondisi di sini sekarang sudah benar-benar gawat. Jumlah positif Covid meningkat tajam dan rumah sakit tak mampu lagi menampung pasien. Sehingga ada imbauan tak tertulis, bagi yang positif tanpa gejala, diharapkan mengisolasi mandiri di rumah.

Tetapi dalam kondisi mengkhawatirkan ini, seperti berbanding terbalik dengan keadaan sehari-hari di masyarakat. Pemberlakuan new normal yang diganti dengan adaptasi kebiasaan baru (AKB) seolah-olah sudah benar-benar normal kembali. Sangat sedikit masyarakat yang menerapkan protokol kesehatan.

Jalan raya sudah sesak kendaraan, kegiatan olahraga (bersepeda) tanpa batasan, cafe-cafe penuh anak muda, malam hari sepanjang Jalan Kesawan Medan ramai yang nongkrong, hajatan sudah mulai kembali dengan musik organ tunggal dan banyak lagi kegiatan tanpa pengawasan.

Kondisi ini seperti menyepelekan keberadaan virus corona yang terus mengancam. Masyarakat berbeda pandangan tentang virus, antara ada dan tiada. Seharusnya ada lembaga survei yang mau menganalisis pandangan masyarakat tentang kasus Covid-19 ini. Sehingga berguna untuk pengambilan kebijakan dalam mencegah dan menanganinya.

Memang sudah banyak pendapat ahli dan akademisi terkait cueknya masyarakat dalam menghadapi virus ini. Sebagian berasumsi, masih banyak masyarakat yang belum percaya dengan keberadaan Covid-19. Virus hanya sebuah konspirasi. Sehingga apapun upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencegahnya, hanya dianggap kebohongan.

Hal ini didukung pula dengan masifnya berita-berita hoaks menyangkut Covid-19 ini. Dari tata cara pencegahan, obat-obatan, penyalahgunaan hingga penyelewengan selalu diwarnai berita hoaks terlebih dahulu. Sehingga masyarakat sudah menganggap berita hoaks itu yang paling benar.

Berita-berita hoaks ini sepertinya tidak mampu diimbangi dengan gencarnya sosialisasi yang dilakukan tim gugus tugas. Mereka hanya sering mengklarifikasi berita-berita yang tak benar, tanpa berinovasi membuat berita menarik secara terus-menerus yang bisa mengubah pola pandang masyarakat.

Untuk menggiring opini masyarakat diperlukan keahlian dan dana yang cukup. Seharusnya pemerintah cepat tanggap memberikan dana stimulan untuk bekerjasama dengan media massa dalam sosialisasi Covid ini.

Masyarakat kita juga dikenal sebagai kurang disiplin. Hal ini tak terlepas dari kebudayaan dan sejarah masa lalu. Sehingga diperlukan upaya konkrit dengan pemberlakuan hukuman yang tegas bagi pelanggar peraturan. Dalam menerapkan protokol kesehatan juga harus berlaku tindakan tegas secara terus-menerus bagi semua pelanggar hukum. Termasuk kepada pelaku pembuat dan penyebar hoaks, yang hingga saat ini seperti bebas lepas tanpa tanggung jawab. (***)
T#gs Melawan Hoakstajuk rencana
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments