Jumat, 18 Sep 2020

Fokus

Masanya Bertransformasi Digital

Minggu, 21 Juni 2020 11:26 WIB
sprinthink.id

Ilustrasi

Wacana untuk memasuki kehidupan normal yang baru (new normal) sudah digaungkan. Termasuk Sumatera Utara sudah merencanakan mengajukan kepada Menteri Kesehatan untuk memasuki kondisi new normal. Padahal dari data-data yang ada terlihat bahwa apa yang terjadi selama ini bukannya bertambah baik malah kondisi semakin mengkhawatirkan.

Angka positif Covid-19 di Sumut bukannya semakin menurun tetapi terus bertambah, bahkan telah menembus angka seribuan atau 1.024 orang pada Jumat (19/6) kemarin. Angka itu menunjukkan bahwa daerah ini menjadi salah satu daerah ranking tinggi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Suatu angka yang tidak normal yang sulit untuk memasuki kehidupan normal yang baru.

Melihat kondisi di lapangan, sepertinya ada pengertian yang keliru bagi masyarakat terkait kehidupan normal yang baru. Dominan masyarakat menilai bahwa new normal itu adalah kembali kepada kehidupan normal yang lama. Sehingga begitu diberi kelonggaran maka dengan leluasa masyarakat hidup seperti keadaan sebelum Covid-19.

Bisa dibayangkan akibat perilaku masyarakat ini, penyebaran Covid-19 semakin tidak terkendali bahkan semakin meningkat sebagaimana terungkap dari angka yang disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut Mayor Kes dr Whiko Irwan D SpB, Jumat kemarin.

Kemudian pertambahan pasien positif Covid-19 itu di Sumut juga diketahui dengan dibukanya kembali penerbangan dengan syarat memiliki surat bebas Covid. Dengan persyaratan itu maka masyarakat yang akan bepergian keluar Sumut wajib mengikuti Swab test sehingga ketahuan bahwa di Sumut juga banyak orang tanpa gejala (OTG) tetapi sudah positif Covid.

Ke depan kita tidak yakin bahwa pasien positif Covid ini akan menurun di Sumut. Apalagi rumah-rumah ibadah sudah mulai diijinkan untuk melaksanakan ibadah tatap muka. Sekarang memang masih tahap uji coba dengan jumlah jemaat yang terbatas. Tetapi gereja Katolik dan Protestan sudah mempersiapkan akan memulai ibadah tatap muka di gereja pada Juli 2020 mendatang.

Baik KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) maupun PGI (Persekutuan Gereja-gereja di indonesia) sudah mempersiapkan protokol kesehatan yang akan diterapkan. Namun Sekretaris Umum PGI Jacky Manuputty tetap mengimbau gereja-gereja untuk sedapat mungkin menahan diri melangsungkan ibadah (tatap muka) di gereja. Ini menunjukkan bahwa gereja pun masih belum meyakini bahwa ibadah tatap muka ini bisa berjalan nyaman bagi kesehatan jemaat meskipun dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Kelihatannya PGI tidak mau jadi kambing hitam apabila terjadi sesuatu yang lebih parah apabila ibadah tatap muka ini dilaksanakan seperti sebelum Covid-19. Keselamatan kesehatan jasmani jemaat kelihatannya menjadi faktor utama pertimbangan pimpinan organisasi gereja ini. Jangan sampai gereja atau rumah ibadah yang seharusnya menjadi menjadi kluster baru kesehatan rohani menjadi kluster baru penyebaran Covid-19. Sehingga pantas menjadi suatu pertimbangan mengingat perilaku masyarakat kita yang sulit untuk berdisiplin.

Namun perlu disadari bahwa meskipun vaksin ditemukan nantinya, tetapi Covid-19 bakal tetap ada di samping kita, apalagi virus itu terus bermutasi. Sehingga kita juga tidak boleh kalah. Caranya tentu dengan beradaptasi supaya bisa bertahan.

Kalau memang kehidupan bertatap muka membahayakan kenapa harus dipaksakan bertatap muka. Demikian halnya kegiatan lainnya, seperti kegiatan ibadah, ekonomi, sosial, budaya, belajar mengajar dan lainnya kenapa harus dipaksakan untuk bertatap muka?. Selama ini sudah kita rasakan bertatap muka, kini kita berkesempatan bertemu di dunia maya, tentu juga hal baru yang mengasyikkan.

Bertemu di dunia maya tentu tidak mengurangi makna dan tujuan yang akan dicapai. Semua ada masanya, jadi jalani dan nikmatilah dengan bertransformasi di dunia digital. Manfaatkan teknologi yang ada sambil tetap menunggu dan berdoa agar para ahli segera menemukan vaksin Covid-19.

Bagi yang tidak sabar dan tak mau bertransformasi ke dunia digital tentu akan merasakan sendiri akibatnya, sedangkan bagi yang mau bertransformasi dan disiplin akan memasuki masa depan dengan kehidupan yang serba digital. Selamat menjalani kehidupan digital. (*)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments