Minggu, 09 Agu 2020

TAJUK RENCANA

Mari Kembali ke Sekolah

redaksisib Senin, 13 Juli 2020 10:34 WIB
merdeka.com

Ilustrasi

Para pelajar sudah sangat rindu untuk kembali ke sekolah, bertatap muka dengan guru dan kawan-kawan lainnya. Kerinduan yang setelah sekian lama "libur" dan harus belajar melalui daring demi memutus mata rantai Covid-19.

Sesempurna apapun sistem daring dibuat agar pelajar dan mahasiswa tetap memperoleh ilmu, namun pembelajaran tatap muka tetap menjadi pilihan terbaik. Karena sebagai mahluk sosial, pada dasarnya manusia tetap ingin berinteraksi secara langsung dengan manusia lainnya.

Lihat saja survei Sahabat Keluarga Kemendikbud, UNICEF yang diselenggarakan pada 18-29 Mei 2020 dan 5-8 Juni 2020 lalu. Selama survei, UNICEF menerima lebih dari 4 ribu tanggapan dari siswa di 34 provinsi Indonesia, melalui kanal U-Report yang terdiri dari SMS, WhatsApp, dan Messenger.

Hasil survei menyebut, sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa dari berbagai jenjang pendidikan di 34 provinsi mengaku tidak nyaman belajar di rumah selama pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, 87 persen siswa ingin segera kembali belajar di sekolah. Lalu, 88 persen siswa juga bersedia mengenakan masker di sekolah dan 90 persen mengatakan pentingnya jarak fisik jika mereka melanjutkan pembelajaran di kelas.

Begitu juga dengan mahasiswa.
Hasil survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan, 90 persen responden mahasiswa ingin kuliah tatap muka seperti biasa ketimbang via internet atau dalam jaringan (daring). Kuliah via internet dianggap tidak efektif.

"Ketika kita tanya memilih daring atau luring (luar jaringan), 90 persen mengatakan masih lebih baik luring, pertemuan langsung dengan dosen masih bagus dibanding melalui daring," kata Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR RI, Kamis (9/7).

Nizam menjelaskan bahwa mayoritas mahasiswa menganggap perkuliahan via internet terhambat oleh koneksi. Dosen pun kerap memberi tugas lebih banyak kepada mahasiswa.

Meski begitu, siswa dan mahasiswa telah menyadari dampak Covid-19 bila mereka kembali ke sekolah atau kampus. Sehingga menurut mereka, akan lebih baik untuk menunggu sampai jumlah kasus Covid-19 berkurang.

Sementara itu, proses pembelajaran tatap muka di sekolah masuk tahun ajaran 2020/2021 serentak dimulai pada Selasa 13 Juli 2020. Jelang diberlakukannya pembelajaran tatap muka di sekolah itu, Mendikbud kembali memberikan panduan.

Hanya wilayah yang masuk di zona hijau yang diperbolehkan untuk menggelar proses pembelajaran tatap muka di sekolah.

Mendikbud tetap meminta pihak sekolah yang menggelar proses pembelajaran tatap muka untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Mendikbud Nadiem Makarim menyebutkan sudah 104 kabupaten di zona hijau yang siap memberlakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Selain itu, Nadiem juga mengingatkan kembali pemberlakukan peraturan tersebut diperuntukan untuk sekolah menengah, yaitu di SMP dan SMA.

Untuk sekolah dasar (SD) baru akan diperbolehkan melaksanakan pembelajaran tatap muka setelah memastikan penerapan protokol kesehatan berjalan dengan baik di SMP dan SMA.

Melihat kondisi ini, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia baru sekitar 20 persen daerah berzona hijau yang bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka. Artinya, 80 persen daerah lainnya harus berupaya keras agar wilayahnya bisa masuk zona hijau. Dan para pelajarnya bisa kembali bersekolah secara tatap muka.

Keinginan para pelajar dan mahasiswa bisa kembali ke sekolah seharusnya diikuti kemauan dan upaya yang keras untuk menurunkan jumlah positif Covid-19 di wilayahnya. Semua pihak harus bisa bekerjasama memutus mata rantai penularan virus dengan benar-benar mematuhi protokol kesehatan.

Tak ada keinginan yang bisa terpenuhi tanpa ada kemauan dan upaya. Keinginan para pelajar kembali ke sekolah harus dibarengi usaha keras dan tekad kuat mematuhi protokol kesehatan. Kalau hal ini bisa dilakukan, kembali ke sekolah bukan cuma kerinduan belaka yang bagai "pungguk merindukan bulan". (***)
T#gs Sekolahtajuk rencana
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments