Kamis, 20 Jun 2019

Makanan Inovatif di Danau Toba

admin Minggu, 06 Januari 2019 13:58 WIB
Jagad media sosial sedang ramai menggunjingkan kegiatan mempromosikan andaliman ke luar negeri. Sebab andaliman dinilai sudah sangat populer di mana-mana. Informasi tentang tanaman ini sangat lengkap di internet, tinggal mengetikkannya di mesin pencari, sudah banyak website yang membahasnya.

Andaliman merupakan bumbu khas yang hanya tumbuh di Sumatera Utara. Memang ada tanaman sejenis di Cina, namun ternyata ada perbedaan yang signifikan, baik dari bentuk, maupun rasa. Penelitian ilmiah te tentang andaliman sudah banyak, walau masih ada keunikannya yang perlu digali.

Tanaman ini memiliki rasa yang khas, yakni agak pedas dan getir di lidah. Tidak semua orang menyukai rasa tersebut, terutama dalam jumlah yang relatif banyak. Umumnya orang Batak menyukainya, sebab sudah akrab dengan andaliman sejak kecil.
Secara tradisional, andaliman sudah menjadi penyedap di berbagai makanan khas Batak. Sebut saja "arsik ikan mas", "na niura" dan aneka sajian daging. Tak lengkap rasanya menyantap makanan Batak tanpa ada sentuhan andaliman di dalamnya.

Dari sisi nama, andaliman sudah populer di masyarakat internasional. Persoalan sekarang, bagaimana membuat mereka ikut menyukai dan mengonsumsinya. Butuh waktu dan cara kreatif mengedukasinya. Itu sebabnya promosi dalam artian mengenalkan fisik andaliman, kurang relevan.

Beberapa pegiat pariwisata di Danau Toba berikhtiar menambah pengonsumsi andaliman. Salah satu cara yang ditempuh melalui makanan inovatif. Andaliman yang lokal dipadukan dengan makanan internasional. Tujuannya agar wisatawan mancanegara tak asing dengan makanan inovatif tersebut.

Makanan inovatif yang sudah muncul antara lain Pizza Andaliman. Pizza merupakan makanan internasional asal Italia yang sangat populer. Di Indonesia banyak penggemarnya hingga ke pelosok. Ketika digabungkan dengan andaliman, menjadi makanan inovatif yang keren.

Orang asing secara perlahan menyukainya, walau memulainya dari porsi kecil, sebab andaliman dijadikan saos. Kreasi seperti ini yang perlu difasilitasi dan didorong. Makanan inovatif harus menggali kekayaan kuliner Danau Toba, bukan andaliman saja.

Jika andaliman mendunia konsumennya, maka harga akan membaik. Petani akan bergairah menanamnya, walau masih ada kendala budidaya. Akademisi harus bergerak cepat sehingga andaliman bisa menjadi tanaman budidaya, walau tetap ada kondisi khusus. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments