Rabu, 21 Agu 2019

Kutipan Parkir di Destinasi Wisata

admin Rabu, 12 Juni 2019 09:58 WIB
Sudah lama ada keluhan tentang mahalnya biaya parkir kendaraan di destinasi wisata Parapat, Danau Toba. Banyak pengunjung harus membayar tanpa ada karcis sebagai bukti parkir. Kutipannya pun tidak seragam, tergantung lokasi dan siapa juru parkir (jukir). Padahal masih di kawasan yang sama, yakni Parapat.

Perilaku tersebut sangat kontraproduktif dengan program pemerintah yang ingin mengembalikan kejayaan pariwisata Danau Toba. Meski memiliki keindahan panorama yang memukau dan budaya yang eksotik, tapi tanpa keramahtamahan, maka turis akan kecewa. Cerita mereka akan menyebar dengan cepat di media sosial (medsos).

Orang bisa berpikir ulang datang ke Danau Toba apabila ketidakramahan yang dipertontonkan masyarakat setempat ke pengunjung. Keramahtamahan bukan hanya soal senyum saja. Intinya adalah membuat nyaman tamu, seolah di rumah atau di kampung sendiri.

Sayangnya, masih ada segelintir warga yang menyebar ketidakramahan itu. Mereka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Libur Lebaran, pengunjung melimpah, di saat itulah tarif parkir dipatok sesuka hati.

Polres Simalungun ternyata tanggap akan keluhan warga tersebut. Dalam operasi dua hari, Minggu dan Senin kemarin, ada diamankan 13 orang jukir yang diduga menyalah dalam mengutip tarif parkir. Mereka terjaring dari beberapa lokasi di Kota Parapat.

Mungkin ada pihak menilai tindakan polisi berlebihan. Sebab selama ini itu dianggap biasa pada setiap liburan. Memang tidak setiap hari pengunjung ramai. Namun, itu bukan alasan untuk mematok parkir sesuka hati.

Pemerintah setempat perlu menyosialisasikan aturan tentang aturan parkir kepada masyarakat lokal. Bisa jadi mereka yang menjadi pelaku belum tahu. Sebaiknya di lokasi parkir dipasang plang tentang tarif parkir sehingga bisa terlihat semua orang.

Langkah Polres Simalungun tersebut patut diapresiasi. Kabupaten lainnya di Danau Toba sebaiknya melakukan hal yang sama. Pemerintah mesti satu bahasa, sehingga warga tidak merasa ada diskriminasi dalam penegakan hukum.

Kita berharap sadar wisata menjadi budaya bagi warga Danau Toba. Menumbuhkannya butuh waktu, sosialisasi mesti gencar. Para pemuka masyarakat sebaiknya dijadikan garda terdepan dalam membangun budaya wisata tersebut.(**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments