Sabtu, 26 Sep 2020

Kontroversi Ganja Sebagai Tanaman Obat

Kamis, 03 September 2020 11:15 WIB
Kompas Lifestyle

Ilustrasi Ganja.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo akhirnya mencabut aturan yang ia buat dalam Kepmentan RI Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 yang di dalamnya menyatakan ganja sebagai tanaman obat binaan Dirjen Hortikultura. Hal ini dilakukannya setelah terjadi kontroversi di masyarakat terkait masalah ini.

Mentan menyatakan, pihaknya akan mengkaji dengan berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). "Kepmentan 104/2020 tersebut sementara akan dicabut untuk dikaji kembali dan segera dilakukan revisi berkoordinasi dengan stakeholder (pemangku kepentingan) terkait," ungkap Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu (29/8).

Dijelaskan, Kementan tak mendukung budidaya ganja yang dilarang dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ganja tergolong narkotika golongan I bersama dengan sabu, kokain, opium, heroin. Izin penggunaan terhadap narkotika golongan I hanya dibolehkan dalam hal-hal tertentu.

Pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas tanaman obat hanya diperbolehkan bagi tanaman ganja yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengetahuan, dan secara legal oleh UU Narkotika. Dalam pasal 67 UU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura telah diatur pengaturan soal penyalahgunaan tanaman.

Pasal tersebut berbunyi: Budidaya jenis tanaman hortikultura yang merugikan kesehatan masyarakat dapat dilakukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau ilmu pengetahuan, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan Bambang Sugiharto sebelumnya menyatakan, ganja tetap ilegal di Indonesia meski dalam Kepmen 104/2020 dinyatakan sebagai komoditas yang masuk dalam daftar tanaman obat Dirjen Hortikultura. Ganja tetap ilegal baik sebagai tanaman obat atau pun konsumsi bebas.

Sebelumnya sempat terjadi kontroversi. Sebut saja Ketua Persaudaraan Tani Sumut, Toni Togatorop yang mengingatkan Kementan (Kementerian Pertanian) supaya jangan coba-coba menciptakan generasi bangsa Indonesia menjadi generasi pemabuk dan pemalas, dengan memasukkan ganja ke dalam komoditas binaan jenis tanaman obat. Penetapan tanaman ganja sebagai jenis tanaman obat harus ditentang keras, karena akan merusak generasi bangsa.

Toni sangat tidak setuju, tanaman ganja ditetapkan sebagai jenis tanaman obat, karena efeknya sangat berbahaya bagi generasi bangsa serta bertentangan dengan Undang-undang No35/2009 tentang Narkotika.

Menurutnya, dengan penetapan itu bisa saja membawa angin segar bagi kehidupan petani. Tapi efeknya tentu akan melahirkan generasi pecandu narkotika serta doyan membuat kekacauan setiap saat, karena ganja gampang didapat dan dikonsumsi.
Kekhawatiran masyarakat itu sangat wajar, mengingat narkoba, termasuk ganja, sudah menghancurkan masa depan banyak generasi muda.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, angka pengguna narkoba di Indonesia terus naik dalam dua tahun terakhir berdasarkan data yang dihimpun Badan Narkotika Nasional (BNN) sejak 2017 sampai 2019.

"Angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia tahun 2017 sebesar 3,3 juta jiwa dengan rentang usia 10 sampai 59 tahun. Tahun 2019 naik menjadi 3,6 juta," kata Ma'ruf saat memberikan pidato di Acara Hari Anti-Narkotika Nasional, Jumat (26/6).

Mengutip data UNODC, Ma'ruf menyebut sebanyak 275 juta atau 5,6 persen dari penduduk dunia usia 15 sampai 65 tahun pernah mengonsumsi narkoba. Kalangan pelajar di Indonesia pun sudah terpapar narkoba. Menurutnya, sekitar 2,29 juta pelajar sudah menggunakan narkoba pada 2018. Kelompok masyarakat yang paling rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah mereka yang berada pada rentang usia 15 sampai 35 tahun atau generasi milenial.

Kontroversi itu sebenarnya tidak perlu ada bila sosialisasi Kepmentan RI Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 dilakukan secara benar dan masif, karena antara pemangku kebijakan dengan masyarakat sama-sama memiliki keinginan yang baik. Kementan ingin memanfaatkan tanaman ganja untuk produk obat-obatan dengan pengawasan ketat. Bahkan sudah 10 negara melegalkan ganja sebagai tumbuhan dan tanaman obat.

Dengan ditariknya kembali Kepmentan itu, bisa jadi pembelajaran bahwa keputusan harus dibuat secara matang dengan melibatkan berbagai pihak terkait, dengan melakukan sosialisasi yang cukup. Sehingga keinginan yang baik itu memperoleh hasil maksimal tanpa sia-sia membuang energi dan waktu.(***)
T#gs GanjaKontroversiSebagai Tanaman Obat
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments