Sabtu, 19 Sep 2020

Kita Digempur Narkoba

Kamis, 11 September 2014 10:31 WIB
Dua oknum perwira polisi ditangkap Polisi Diraja Malaysia karena kedapatan membawa Narkoba seberat 3,1 kg. Keduanya, AKBP Idha Endri Prastiono dan Bripka MP Harahap, diduga menjadi kurir sindikat perdagangan Narkoba internasional. Mengejutkannya, Mabes Polri mengeluarkan informasi bahwa dari  72 polisi yang telah diberhentikan selama 2 tahun terakhir, 39 orang di antaranya karena tersangkut masalah Narkoba.

Masalah Narkoba kelihatannya semakin serius. Yang terlibat semakin banyak. Barusan saja, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan bahwa setelah BNN melakukan pemeriksaan, ditemukan 19 PNS di Dinas PU DKI Jakarta positif mengonsumsi Narkoba jenis ganja. PNS yang positif tersebut, ada yang menjadi pejabat eselon IV setingkat kepala seksi.

Di kalangan remaja, pengguna Narkoba diperkirakan lebih banyak lagi. Kalangan kelompok usia ini disasar oleh para penjual Narkoba karena mudah terpengaruh pada godaan Narkoba. Maka tidak heran jika kini terjadi trend kenaikan pada pengguna Narkoba kelompok ini.

Bukan hanya kelompok usia muda. Pemasok narkoba juga menyasar kelompok intelektual dan berpengaruh. Ada anggota DPRD yang juga turut menggunakan Narkoba. Pada akhirnya, jaringan pengedar Narkoba ini telah menggunakan seluruh kemampuannya untuk menembus seluruh elemen yang menghambat peredarannya, termasuk penegak hukum.

Sampai dengan saat ini, sebanyak lebih dari 5 juta orang telah terlibat dalam menggunakan Narkoba. Angka ini luar biasa banyaknya. Dengan jumlah tersebut, maka kerugian negara, termasuk individu penggunanya mencapai Rp. 55 triliun, termasuk uang untuk membeli Narkoba, biaya terapi, biaya rehabilitasi, biaya produktivitas yang hilang, kematian akibat narkoba dan tindakan kriminal sebagai kejadian ikutannya.

Menurut keterangan dari aparat kepolisian, di Indonesia sudah disentuh oleh jaringan "West African Syndicate" untuk perdagangan Narkoba. Narkoba dari India kemudian dikirim lewat Bangkok kemudian Johor lalu Kucing dan akhirnya masuk Indonesia melalui Pontianak. Pintu masuk melalui jalur tersebut memang terbuka sangat lebar.

Yang paling merugikan dan kini menjadi modus dari para pelaku penjualan Narkoba adalah aksi pencucian uang (money laundering) yang dilakukan oleh pelaku-pelakunya. Mereka bersembunyi di balik berbagai usaha, diantaranya perdagangan emas dan saham, usaha-usaha tersembunyi, termasuk menghindari diri dari transaksi menggunakan perbankan.  Saking hebatnya, bahkan perdagangan Narkoba masih bisa dikendalikan oleh pelakunya dari dalam penjara. Ini karena pasokan Narkoba telah menjerat berbagai elemen yang seharusnya mendukung penanganannya.

Dalam kondisi itulah, maka peran PPATK kini semakin strategis. PPATK bukan hanya memberikan informasi mengenai dugaan adanya money laundering dalam kasus korupsi, tetapi juga menduga adanya aliran uang yang berhubungan dengan Narkoba.

Alarm peringatan terhadap masalah Narkoba ini memang sudah berdering sangat kencang. Berbagai elemen dalam masyarakat kita kini telah terancam berada dalam sasaran jaringan Narkoba. Kita harus segera meningkatkan kemampuan kita untuk mendeteksi dan mencegah peredarannya.

Penegakan hukum maksimal memang masih menjadi kendala. Masih ada kesan mudah dalam membebaskan pelakunya. Sementara itu, kita tahu bahwa masuknya jaringan Narkoba ke dalam elemen penegak hukum bukan lagi isapan jempol. Perhatian keras harus diberikan oleh pemerintah terhadap kejahatan Narkoba yang saat ini sudah memperlihatkan kejahatannya yang luar biasa menggempur, sebagaimana korupsi. (***)

T#gs KITA
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments