Kamis, 21 Nov 2019

Kenaikan Cukai Kurangi Perokok?

admin Kamis, 19 September 2019 12:30 WIB
Pemerintah telah memutuskan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen. Secara otomatis harga jual rokok eceran naik ke angka 35 persen. Kenaikan cukai dan harga jual eceran ini mulai berlaku 1 Januari 2020 dan akan ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Berdasarkan data, belanja rokok menempati peringkat kedua dalam konsumsi rumah tangga dalam keluarga miskin. Merek lebih memilih belanja rokok daripada belanja makanan bergizi. Hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susanas) 2015 mengungkapkan, belanja rokok telah mengalahkan belanja beras.

Konsumsi rokok ini setara atau bahkan mengalahkan konsumsi total untuk daging, susu, telur, ikan, pendidikan, dan kesehatan. Tiga dari empat keluarga Indonesia memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Kelompok keluarga termiskin justru mempunyai prevalensi merokok lebih tinggi daripada kelompok pendapatan terkaya.

BPS menyatakan rokok menjadi penyumbang kemiskinan terbesar nomor dua. Tingginya belanja rokok keluarga miskin ini mengganggu program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Karena itu, berbagai kalangan menilai rokok sebagai perangkap kemiskinan.

Kementerian Kesehatan mengapresiasi kenaikan cukai rokok sebagai upaya mengurangi perokok anak. Persentase perokok anak kurang dari 18 tahun terus meningkat, dari 7,2 persen (2009) menjadi 8,8 persen (2016), lalu menjadi 9,1 persen (2018). Peningkatan jumlah perokok anak dinilai semakin jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 sebesar 5,4 persen.

Lalu benarkah kenaikan cukai akan efektif mengurangi perokok, terutama anak? Ini masih asumsi karena menjadikan mahalnya rokok akan membuat anak-anak tak mampu lagi membelinya. Untuk pemula mungkin benar, tetapi jika sudah kecanduan, harga tak akan menjadi penghalang.

Mereka demi memuaskan keinginan merokok akan melakukan apa saja. Bisa saja anak dan remaja yang sudah kecanduan akan menjual barang orangtuanya. Kejahatan remaja justru makin meningkat.

Selagi rokok masih dengan mudah didapatkan di pasar karena dijual bebas, maka kenaikan harga tidak akan mengurangi konsumsi. Belajar dari kasus sebelumnya, keluhan perokok hanya di awal saja, begitu berjalan seiring waktu, makan kebutuhan itu tetap harus dipenuhi. Meski untuk bisa merokok, ada kebutuhan lain yang dikurangi.

Pengurangan perokok tidak akan memadai dengan kenaikan cukai. Belajar dari Singapura, aturan merokok di ruang publik yang mesti tegak. Silakan orang membeli rokok, meski tahu itu bisa merusak kesehatan mereka. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments