Rabu, 18 Sep 2019

Kejar Target di Akhir Periode

admin Jumat, 06 September 2019 11:26 WIB
Mungkin sudah menjadi kebiasaan di negeri ini, selalu genting di saat-saat terakhir. Lihatlah, pendaftaran mahasiswa baru selalu ramai di hari terakhir. Begitu juga saat mau penutupan memasukkan laporan pajak, ratusan ribu bahkan jutaan serempak mengakses jaringan di hari yang sama berakibat server "down" (jatuh).

Masih banyak contoh yang menguatkan pernyataan tersebut. Hal itu yang terlihat di DPR RI, yang masa kerjanya lima tahun dan sebenarnya waktunya cukup untuk bekerja. Sayangnya, yang terjadi sebaliknya, berbagai pihak malah sering menyoroti kinerja parlemen yang sangat lemah dalam legislasi (menghasilkan/merevisi UU).

Seolah ingin meninggalkan kesan baik di akhir masa kerja, DPR RI yang masa waktunya tinggal menghitung hari ini, mengebut untuk membahas beberapa UU. Bukan sekadar regulasi biasa, tetapi yang menjadi perhatian publik sebab menyangkut berbagai hal penting bagi masa depan bangsa.

Sebut saja RUU KUHP yang kabarnya akan segera dibahas dalam hitungan hari dan secepatnya disahkan. Aturan ini menuai perlawanan sebab antara lain berpotensi mengancam kebebasan pers. Peradilan negeri bergantung pada KUHP yang kualitasnya diragukan banyak pihak karena waktunya mepet membahasnya.

Teranyar, UU KPK disepakati akan direvisi. Senasib dengan KUHP, waktunya singkat. Meski hak legislasi ada di tangan DPR RI dan Pemerintah, keterlibatan publik tak bisa diabaikan. Ruang harus dibuka seluas-luasnya bagi warga berkomentar, berdiskusi, mengkritisi dan memberi saran.

Langkah yang diambil Presiden Jokowi kepada anggota kabinetnya agar tidak mengambil keputusan strategis, sebaiknya diterapkan juga di DPR RI. Mengingat periode mereka segera berakhir, jangan menghasilkan aturan yang strategis, seperti KUHP dan revisi UU KPK. Gunakanlah waktu tersisa membuat evaluasi kinerja dan membuat masukan ke wakil rakyat periode mendatang.

Jadi anggota dewan yang baru tidak lagi harus beradaptasi dalam waktu yang lama. Memorandum tugas DPR RI sebelumnya menjadi pemandu ke arah bangsa yang lebih baik. Sebab yang sering terjadi, penyesuaian beberapa tahun, dan mengebut di saat terakhir.

Anggota dewan yang akan berakhir jangan berpikiran jika rakyat tak setuju maka masih ada Mahkamah Konstitusi (MK). Jika ini menjadi preseden, maka MK akan sibuk "membersihkan" pekerjaan parlemen. Padahal kehati-hatian di awal pembuatannya akan meningkatkan kualitas RUU yang dihasilkan.

Kita mengapresiasi "niat baik" anggota dewan sekarang yang ingin menuntaskan pekerjaan rumah yang belum selesai. Perlu diingat, yang terburu-buru karena kejar target tidak pernah menghasilkan yang bermutu. Mari berjiwa besar, serahkan ke DPR RI periode selanjutnya. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments