Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Jasa Penggerak Massa

Rabu, 12 Maret 2014 13:20 WIB
Bisa dipastikan biaya politik akan sangat tinggi pada masa kampanye. Sebagaimana yang kita ketahui, massa yang mengikuti  suatu kampanye cenderung merupakan massa bayaran. Maka siapa yang ikut kampanye akan dituding dengan bayaran. Pada akhirnya "wani piro" akan makin menguat dalam pengerahan massa, mengingat kampanye merupakan bentuk pengarahan massa melalui arak-arakan di jalan dan lapangan sambil menunjukkan simbol -simbol partai ke khalayak ramai. 

Pemilu 2014 semakin dekat, tepatnya 9 April 2014. Pelaksanaan kampanye sebagai salah satu agenda yang telah ditetapkan oleh KPU akan dilakukan oleh semua parpol sesuai dengan zona waktu dan zona tempat yang ditentukan KPU. Yang menjadi pertanyaan saat ini, sejauh mana urgensi kampanye terhadap peningkatan kualitas Pemilu 2014? Apakah kampanye bisa jadi kontrak politik antara rakyat dengan Caleg atau Parpol sebagai upaya mengikat sehingga ke depannya terpilih wakil rakyat yang aspiratif.

Kembali kepada masalah kampanye. Berdasarkan evaluasi selama ini kampanye identik dengan arak-arakan massa. Lautan manusia yang terlihat di lapangan selalu meneriakkan yel-yel “hidup partai X, hidup partai Y”. Si orator Parpol membakar semangat massa untuk memilih partai dengan memberikan janji perbaikan, perubahan, dan peningkatan kualitas hidup lebih baik.

Inilah gambaran kampanye yang akan terjadi dengan banyaknya massa yang berbaur di lapangan-lapangan luas.  Kembali kepada urgensi kampanye, apakah kampanye harus dilakukan dengan  arak-arakan massa sebagaimana yang terjadi selama ini? Seharusnya kampanye yang dilakukan adalah kontrak politik antara Parpol dan Caleg dengan masyarakat. Dengan demikian apa yang dipidatokan di kampanye bukan hanya bualan atau pepesan kosong.

Kampanye merupakan pesan politik yang diberikan kepada masyarakat. Masyarakat diberikan pengharapan tentang masa depan bangsa ini jika Parpolnya dipercaya oleh masyarakat. Tetapi dalam realitas seringkali yang terjadi malah pengingkaran. Apa yang dijanjikan Parpol kepada masyarakat tidak terwujud dengan baik. Parpol pun tidak tanggung jawab dengan apa yang dijanjikannya.

Kembali kepada pengerahan massa pada waktu kampanye, maka para penyedia jasa penggerak massa akan makin besar. Jasa penggerak massa akan mendapat rezeki nomplok karena berhitung dengan jumlah massa yang bisa dikerahkan. Melihat realitas kampanye yang sarat dengan hal yang tidak mendidik, apakah tidak ada lagi bentuk kampanye yang lebih mendidik dan efektif? Dalam bentuk dialog misalnya, seminar, pertemuan resmi, debat program antar partai dan bentuk yang mendidik lainnya.

Semoga kampanye yang akan dilakukan merupakan kampanye yang mendidik, dan membicarakan hal yang riil. Jangan lagi Parpol memberikan janji kosong pada masa kampanye. Saatnya membuktikan dengan tindakan dan bukan mengolah kata-kata yang hanya membius sesaat. Janji Parpol pada masa kampanye merupakan hal yang bisa diterapkan (implementatif) dengan baik.

Yang lebih penting lagi, Parpol harus mencegah praktik membayar massa, sehingga jasa penggerak massa tidak punya ruang untuk untuk melakukan politik transaksional. Mencegah jasa penggerak massa sangat penting dalam rangka menciptakan adab politik yang luhur bagi masa depan demokrasi bangsa ini.  (#)


Simak juga berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 12 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments