Senin, 13 Jul 2020

Jangan Ceroboh, Gelombang Kedua Mengancam

Senin, 22 Juni 2020 11:18 WIB
tirto.id

Ilustrasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Sabtu (20/6) mengumumkan, angka kasus harian positif Covid-19 tertinggi pada Kamis (19/6). Sebanyak 150 ribu orang di dunia terjangkit corona, dan hampir setengah dari mereka berada di Benua Amerika.

Brasil menjadi episentrum baru setelah Amerika Serikat, yakni 978.142 kasus positif dan 47.748 kematian. Adapun kasus dalam jumlah besar lainnya datang dari Asia Selatan dan Timur Tengah.

"Dunia berada dalam babak baru dan berbahaya," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam rapat virtual di Markas WHO, Jenewa, dilansir Reuters.

"Virus (corona) ini masih menyebar cepat, masih mematikan dan kebanyakan orang masih rentan," tuturnya.
Hingga saat ini, sudah lebih dari 8,53 juta orang di dunia terjangkit corona. Sebanyak 453.834 meninggal dunia dan lebih dari 4 juta orang dinyatakan sembuh.

Tedros mendesak semua pihak untuk menjaga jarak fisik dan meningkatkan kewaspadaan secara ekstrem.
Sementara itu Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, kasus Covid-19 di Indonesia hingga Sabtu (20/6), masih terus bertambah. Berdasarkan data hingga Sabtu pukul 12.00 WIB, ada 1.226 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.

Penambahan itu menyebabkan total ada 45.029 kasus di Indonesia, terhitung sejak kasus pertama diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020.

Khusus Sumut, jumlah pasien positif Covid-19 juga semakin meningkat. GTPP Covid-19 Sumut menginformasikan, hingga Sabtu (20/6) sore, pasien positif sudah mencapai 1.082 orang dan yang meninggal 96 orang. Sehari sebelumnya yang meninggal 67 orang.

Jadi dalam tempo sehari pasien positif meninggal 29 orang. Sebuah kejadian luar biasa untuk daerah ini, karena selama ini belum pernah pasien meninggal sebanyak itu dalam sehari. Sementara untuk kabupaten/kota, tertinggi di Kota Medan dengan 711 kasus positif.

Menampilkan angka-angka ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi sebuah fakta agar tetap waspada dan tidak ceroboh meninggalkan protokol kesehatan demi memutus mata rantai penularan virus. Karena kondisi keseharian masyarakat saat ini sudah seperti bertolak belakang dengan keadaan perkembangan kasus sebenarnya. Apalagi dengan persiapan the new normal, seolah-olah kondisi benar-benar sudah normal.

Padahal sangat miris bila melihat keadaan masyarakat di lapangan. Seperti di Kota Medan, sebagai wilayah zona merah dan paling banyak pasien positif Covid di Sumut, saat ini jalan raya sudah mulai macet, pasar tradisional ramai, cafe-cafe mulai dipenuhi anak muda nongkrong dan lain sebagainya, tanpa masker dan jarak fisik. Meski ada yang menggunakan masker, tapi sebagian besar meletakkannya pada tempat yang salah, di dagu. Bahkan ada yang cuma menyimpannya di tas sebagai persiapan bila ada yang menyuruh menggunakan atau memasuki kawasan wajib masker.

Memang sebagian besar tempat umum seperti pusat perbelanjaan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Namun sepertinya hanya sebuah kewajiban untuk memenuhi syarat protokol kesehatan. Belum tampak adanya kesadaran yang benar-benar tinggi. Hal ini bisa jadi disebabkan karena merasa diri sehat dan menganggap tidak mungkin bakal tertular virus. Bahkan yang lebih mengherankan, masih banyak yang tidak percaya bahwa Covid-19 itu ada. Mereka menganggap keberadaan virus sebagai konspirasi pihak tertentu dengan motif ekonomi atau politik.

Anggapan keliru semacam ini hendaknya bisa dihilangkan dengan mengintensifkan sosialisasi ke masyarakat dengan melibatkan banyak unsur, terutama para tokoh agama, tokoh masyarakat dan ulama. Karena banyak juga tokoh agama dan ulama menyampaikan pandangan yang keliru kepada umatnya tentang Covid-19. Kita tak ingin masyarakat sadarnya terlambat. Sudah terkena kasus baru percaya kalau virus itu benar-benar ada, dan penyebarannya harus diputus dengan melaksanakan protokol kesehatan secara benar.

Melihat pengumuman WHO di atas, sebaiknya Pemprov Sumut maupun Pemko Medan tidak terburu-buru berharap pemberlakuan new normal. Bekerja lebih keras menangani kasus Covid supaya benar-benar tuntas. Pemulihan ekonomi memang sangat penting, tetapi lebih penting menyelamatkan masyarakat. Ekonomi tak mungkin pulih bila pandemi semakin meluas dan mengancam kehidupan manusia.

Pakar Kedaruratan WHO, Mike Ryan, juga menyoroti banyaknya negara yang mulai melonggarkan pembatasan tetapi takut akan gelombang kedua. Ryan mendesak seluruh negara memakai pendekatan bertahap dan ilmiah.

"Keluar dari pembatasan/lockdown harus dilakukan dengan hati-hati, secara bertahap dan harus didorong oleh data," kata Ryan.
Pernyataan ini sungguh tepat, karena bila kita "melawan" atau "berkawan" dengan Covid, tidak boleh terlalu mengedepankan emosi. Tetapi gunakanlah pendekatan ilmiah, karena virus dan sejenisnya hanya bisa dihadapi dengan cara-cara ilmiah pula. (***)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments